Pengelolaan Pembelajaran PKn   Leave a comment

 

Pengelolaan Bidang Pendidikan

 

Inovasi Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan

 

 

 

Berbagai factor yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan implementasi inovasi pembelajaran PKn, mengapa harus menggunakan pendekatan etnopedagogis,                    dan psycho pedagogical

 

          Sebuah inovasi pembelajaran menurut Ibrahim (1988: 161-167) dalam prosesnya senantiasa dipengaruhi oleh beberapa faktor, dianataranya yaitu sebagai berikut: (1) faktor kegiatan belajar-mengajar; (2) faktor internal dan eksternal; dan (3) sistem pendidikan (pengelolaan dan pengawasan). Berkaitan dengan faktor-faktor diatas, maka keberhasilan dan kegagalan sebuah inovasi pembelajaran PKn pun senantiasa dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik faktor guru, siswa, kurikulum, fasilitas, maupun lingkup sosial masyarakat.

 

          Menurut Noor (2006) keberhasilan  dan kegagalan inovasi pembelajaran PKn senantiasa dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor yaitu:

 

*             Guru. Guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan merupakan pihak yang sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Kepiawaian dan kewibawaan guru sangat menentukan kelangsungan proses belajar mengajar di kelas maupun efeknya di luar kelas. Guru harus pandai membawa siswanya kepada tujuan yang hendak dicapai.

 

Ada beberapa hal yang dapat membentuk kewibawaan guru antara lain adalah penguasaan materi yang diajarkan, metode mengajar yang sesuai dengan situasi dan kondisi siswa, hubungan antar individu, baik dengan siswa maupun antar sesama guru dan unsur lain yang terlibat dalam proses pembelajaran.

 

Dengan demikian, maka dalam pembaharuan pembelajaran, keterlibatan guru mulai dari perencanaan inovasi pembelajaran sampai dengan pelaksanaan dan evaluasinya memainkan peran yang sangat besar bagi keberhasilan suatu inovasi pembelajaran. Tanpa melibatkan mereka, maka sangat mungkin mereka akan menolak inovasi yang diperkenalkan kepada mereka. Oleh karena itu, dalam suatu inovasi pembelajaran, gurulah yang utama dan pertama terlibat karena guru mempunyai peran yang luas sebagai pendidik, sebagai orang tua, sebagai teman, sebagai dokter, sebagi motivator dan lain sebagainya. (Wright, 1987).

 

*             Siswa. Sebagai obyek utama dalam pendidikan terutama dalam proses belajar mengajar, siswa memegang peran yang sangat dominan. Dalam proses belajar mengajar, siswa dapat menentukan keberhasilan belajar melalui penggunaan intelegensia, daya motorik, pengalaman, kemauan dan komitmen yang timbul dalam diri mereka tanpa ada paksaan. Hal ini bisa terjadi apabila siswa juga dilibatkan dalam proses inovasi pembelajaran, walaupun hanya dengan mengenalkan kepada mereka tujuan dari pada perubahan itu mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan, sehingga apa yang mereka lakukan merupakan tanggung jawab bersama yang harus dilaksanakan dengan konsekwen. Peran siswa dalam inovasi pembelajaran tidak kalah pentingnya dengan peran unsur-unsur lainnya, karena siswa bisa sebagai penerima pelajaran, pemberi materi pelajaran pada sesama temannya, petunjuk, dan bahkan sebagai guru. Oleh karena itu, dalam memperkenalkan inovasi pembelajaran sampai dengan penerapannya, siswa perlu diajak atau dilibatkan sehingga mereka tidak saja menerima dan melaksanakan inovasi tersebut, tetapi juga mengurangi resistensi seperti yang diuraikan sebelumnya.

 

*             Kurikulum. Kurikulum pendidikan, lebih sempit lagi kurikulum sekolah meliputi program pengajaran dan perangkatnya merupakan pedoman dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Oleh karena itu kurikulum sekolah dianggap sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam proses belajar mengajar di sekolah, sehingga dalam pelaksanaan inovasi pembelajaran, kurikulum memegang peranan yang sama dengan unsur-unsur lain dalam pendidikan. Tanpa adanya kurikulum dan tanpa mengikuti program-program yang ada di dalamya, maka inovasi pembelajaran tidak akan berjalan sesuai dengan tujuan inovasi itu sendiri. Oleh karena itu, dalam pembahruan pendidikan, perubahan itu hendaknya sesuai dengan perubahan kurikulum atau perubahan kurikulum diikuti dengan pembaharuan pendidikan dan tidak mustahil perubahan dari kedua-duanya akan berjalan searah.

 

*             Fasilitas. Fasilitas, termasuk sarana dan prasarana pendidikan, tidak bisa diabaikan dalam dalam proses pendidikan khususnya dalam proses belajar mengajar. Dalam inovasi pembelajaran PKn, tentu saja fasilitas merupakan hal yang ikut mempengaruhi kelangsungan inovasi yang akan diterapkan. Tanpa adanya fasilitas, maka pelaksanaan inovasi pembelajaran akan bisa dipastikan tidak akan berjalan dengan baik. Fasilitas, terutama fasilitas belajar mengajar merupakan hal yang esensial dalam mengadakan perubahan dan pembahruan pendidikan. Oleh karena itu, jika dalam menerapkan suatu inovasi pembelajaran, fasilitas perlu diperhatikan. Misalnya ketersediaan media pembelajaran, buku ajar yang layak dan sebagainya.

 

*             Lingkup Sosial Masyarakat. Dalam menerapkan inovasi pembelajaran, ada hal yang tidak secara langsung terlibat dalam perubahan tersebut tapi bisa membawa dampak, baik positif maupun negatif, dalam pelaklsanaan pembahruan pendidikan. Masyarakat secara tidak langsung atau tidak langsung, sengaja maupun tidak, terlibat dalam pendidikan. Sebab, apa yang ingin dilakukan dalam pendidikan sebenarnya mengubah masyarakat menjadi lebih baik terutama masyarakat di mana peserta didik itu berasal. Tanpa melibatkan masyarakat sekitarnya, inovasi pembelajaran tentu akan terganggu, bahkan bisa merusak apabila mereka tidak diberitahu atau dilibatkan. Keterlibatan masyarakat dalam inovasi pembelajaran sebaliknya akan membantu inovator dan pelaksana inovasi dalam melaksanakan inovasi pembelajaran.

 

Dalam proses perkembangannya inovasi pembelajaran PKn senantiasa menghadapi berbagai tantangan dan hambatan. Tantangan dan hambatan tersebut menurut Budimansyah (2000, 2001) adalah:

 

masukan instrumental (instrumental input) terutama yang berkaitan dengan kualitas

 

guru/dosen serta keterbatasan fasilitas dan sumber belajar, dan masukan lingkungan (environmental input) terutama yang berkaitan dengan kondisi dan situasi kehidupan politik negara yang kurang demokratis.

 

Dengan demikian, pelaksanaan PKn tidak mengarah pada misi sebagaimana seharusnya. Beberapa indikasi empirik yang menunjukkan salah arah tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

 

·         Proses pembelajaran dan penilaian dalam PKn lebih menekankan pada dampak instruksional (instructional effects) yang terbatas pada penguasaan materi (content mastery) atau dengan kata lain hanya menekankan pada dimensi kognitifnya saja. Sedangkan pengembangan dimensi-dimensi lainnya (afektif dan psikomotorik) dan pemerolehan dampak pengiring (nurturant effects) sebagai “hidden curriculum” belum mendapat perhatian sebagaimana mestinya.

 

·         Pengelolaan kelas belum mampu menyiptakan suasana kondusif dan produktif untuk memberikan pengalaman belajar kepada siswa/mahasiswa melalui perlibatannya secara proaktif dan interaktif baik dalam proses pembelajaran di kelas maupun di luar kelas (intra dan ekstra kurikuler) sehingga berakibat pada miskinnya pengalaman belajar yang bermakna (meaningful learning) untuk mengembangkan kehidupan dan perilaku siswa/mahasiswa.

 

·         Pelaksanaan kegiatan ekstra-kurikuler sebagai wahana sosio-pedagogis untuk mendapatkan “hands-on experience” juga belum memberikan kontribusi yang signifikan untuk menyeimbangkan antara penguasaan teori dan praktek pembiasaan perilaku dan keterampilan dalam berkehidupan yang demokratis dan sadar hukum.

 

          Indikasi-indikasi tersebut diatas melukiskan bahwa begitu banyaknya tantangan kurikuler dan sosial-kultural (internal) bagi PKn untuk menghasilkan suatu totalitas hasil belajar yang mencerminkan pencapaian secara komprehensif (menyeluruh) dimensi kognitif, afektif, dan psikomotorik yang koheren dan konfluen. Hasil belajar PKn yang belum mencapai keseluruhan dimensi secara optimal seperti digagaskan itu berarti menunjukkan bahwa tujuan kurikuler PKn belum dapat dicapai sepenuhnya.

 

Di lain pihak PKn juga senatiasa menghadapi tantangan eksternal yaitu kritikan dan tuntutan dari berbagai lapisan masyarakat berkaitan dengan semangat demokratisasi yang semakin meningkat dengan segala eksesnya. PKn yang secara paradigmatik sarat dengan muatan afektif namun dilaksanakan secara kognitif telah disikapi secara keliru sebagai satu-satunya obat mujarab (panacea) untuk mengatasi persoalan kehidupan para siswa khususnya yang menyangkut perilaku dan moral. Namun demikian, kritikan dan tuntutan tersebut sudah seharusnya direspons dan diakomodasikan secara proporsional karena memang pendidikan secara umum dan PKn secara khusus bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja tetapi juga tanggung jawab seluruh komponen masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia. Tanggung jawab bersama untuk menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas pada hakikatnya merupakan perwujudan dari amanat nasional.

 

Selain itu pendidikan di Indonesia juga senantiasa dihadapkan pada berbagai persoalan dan situasi global yang berkembang cepat setiap waktu baik yang bermuatan positif maupun yang bermuatan negatif atau bertentangan dengan kepribadian bangsa Indonesia. Ketidakmampuan bangsa Indonesia dalam merancang program pendidikan yang mengakomodasikan kecenderungan dan persoalan global tersebut berarti akan menghilangkan kesempatan untuk mengejar ketertinggalan guna mensejajarkan dirinya dengan bangsa-bangsa yang sudah maju dalam bidang pendidikannya. Selain menghadapi tantangan, ada beberapa permasalahan kurikuler yang mendasar dan menjadi hambaan dalam peningkatan kualitas Pendidikan Kewarganegaraan, yang meliputi:

 

a.           Penggunaan alokasi waktu yang tercantum dalam Struktur Kurikulum Pendidikan dijabarkan secara kaku dan konvensional sebagai jam pelajaran tatap muka terjadwal sehingga kegiatan pembelajaran PKn dengan cara tatap muka di kelas menjadi sangat dominan. Hal itu mengakibatkan guru atau dosen tidak dapat berimprovisasi secara kreatif untuk melakukan aktivitas lainnya selain dari pembelajaran rutin tatap muka yang terjadwal dengan ketat.

 

b.           Pelaksanaan pembelajaran PKn yang lebih didominasi oleh kegiatan peningkatan dimensi kognitif mengakibatkan porsi peningkatan dimensi lainnya menjadi terbengkalai. Di samping itu, pelaksanaan pembelajaran diperparah lagi dengan keterbatasan fasilitas media pembelajaran.

 

c.           Pembelajaran yang terlalu menekankan pada dimensi kognitif itu berimplikasi pada penilaian yang juga  menekankan pada penguasaan kemampuan kognitif saja sehingga mengakibatkan guru/dosen harus selalu mengejar target pencapaian materi.

 

Gambaran diatas merupakan kondisi faktual bahwa dalam perkembangannya inovasi pembelajaran di persekolahan senantiasa mengalami tantangan dan hambatan, oleh karena itu maka perlu diadakan upaya sebagai alternatif pemecahan agar inovasi pembelajaran dapat diwujudkan dengan baik. Adapun upaya yang dapat dilakukan guna menghadapi tantangan dan hambatan yang menyelimuti perkembangan inovasi pembelajaran PKn, yaitu dengan:

 

a.           Penyelenggaraan pelatihan secara berkala untuk meningkatkan kualitas kemampuan mengajar guru dan dosen PKn. Namun pelatihan tersebut masih perlu terus ditingkatkan kualitasnya agar mampu menunjukkan hasil yang optimal;

 

b.           Penataan kembali materi PKn agar lebih sesuai dengan tuntutan kebutuhan bagi kehidupan masyarakat yang demokratis. Namun, upaya penataan tersebut dirasakan belum menghasilkan perubahan yang signifikan dalam pembelajaran PKn seperti yang diharapkan;

 

c.           Perubahan sistem belajar di persekolahan, dari catur wulan ke semester, dan di perguruan tinggi menjadi sistem kredit semester (SKS), yang diyakini akan lebih memungkinkan guru/dosen untuk dapat merancang alokasi waktu dan strategi pembelajaran secara fleksibel dalam rangka upaya peningkatan kualitas pembelajarannya, belum memperlihatkan hasil yang memadai.

 

d.          Guru sebagai pengembang kurikulum sudah waktunya peka dan responsif terhadap tuntutan perkembangan sistem pendidikan.

 

e.           Kebijakan pemerintah Indonesia dalam bidang pendidikan untuk meningkatkan akses pendidikan, mutu dan relevansi, serta efisiensi pengelolaan hendaknya dijadikan dasar semangat untuk kemajuan bersama.

 

f.            Sekolah sebagai unit terkecil pengelolaan pendidikan hendaknya secara konsisten memperhatikan rambu-rambu prioritas pembangunan pendidikan yang diwujudkan dalam proses pembelajaran di kelas, misalnya secara kreatif mengembangkan metode yang efektif, penyediaan media dan sumber belajar yang memadai dan mengembangkan teknik evaluasi yang tepat.

 

Pengembangan terhadap model-model pembelajaran khususnya PKn hendaknya lebih ditingkatkan kembali. Dimana pemilihan model dan metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan kurikulum dan potensi siswa merupakan kemampuan dan keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Referensi

 

Abdulkarim, Aim. (2004). Kewarganegaraan untuk SMA Kelas XI Jilid 2. Bandung: Grafindo Media Pratama.

 

Budimansyah, Dasim, dkk. (2000). Studi Eksperimental Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Portofolio di SMU Negeri 8 Bandung. Laporan Hasil Penelitian Lembaga Penelitian IKIP Bandung.

 

——-. (2001). “Apa dan Mengapa Model Pembelajaran Berbasis Portofolio?”. Makalah disampaikan pada Diklat Guru-guru PKN SLTP Jawa Barat di Lembang.

 

Budimansyah, Dasim dan Karim Suryadi. 2008. PKn dan Masyarakat Multikultural. Bandung: Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan-Sekolah Pascasarjana-Universitas Pendidikan Indonesia.

 

Suriakusumah dan Sundawa ,D (2008). Bahan Pelatihan Pendidikan Latihan Propesi Guru Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Guru / SMK/MA. Bandung:UPI

 

 

PENDAHULUAN

Dalam    Undang-Undang   Nomor    20   Tahun   2003    tentang    Sistem   Pendidikan  Nasional  Tahun   2003   pada  lampiran  3g  dan  juga  dalam  Peraturan  Menteri  Pendidikan Nasional   Nomor   74  Tahun   2009   tentang   Ujian   Akhir   Sekolah   Berstandar   Nasional  (UASBN)  untuk SD,MI, dan SLB Tahun Pelajaran 2009/2010 memuat   Standar  Kompetensi  Lulusan    mata   pelajaran   bahasa   Indonesia   yang   menuntut   bagi   siswa  mempunyai   berbagai   keterampilan  berbahasa  Indonesia  yang   baik   dan   benar.  Sehingga   siswa   yang   telah  lulus   seharusnya  memiliki   keterampilan   berbahasa    Indonesia    sesuai   standar    kelulusan.   Tetapi   kenyataannya    dalam    praktik    sehari-hari     pada    lembaga   pendidikan   baik   tingkat   dasar  maupun   perguruan   tinggi   kurang   mendukung  terhadap  keterampilan    berbahasa    Indonesia, terutama dalam keterampilan berbicara. Hal    ini   terlihat   pada setiap lembaga  pendidikan,  misalnya : pada   saat   proses    kegiatan   belajar  mengajar    bahasa   Indonesia   baik  guru   atau   siswa  tidak  berbicara  menggunakan  bahasa  Indonesia, apalagi di luar  kelas   guru   atau   siswa   selalu berbicara menggunakan bahasa  daerahnya.

Untuk itu  perlu  adanya  upaya   membiasakan  berbahasa  Indonesia  dalam berbicara pada  saat   terjadinya   interaksi  hubungan  antara   guru  dengan  siswa  di  sekolah. Upaya  ini   sangat penting  sekali   karena  dapat   membantu   tercapainya   standar    kompetensi    lulusan   bagi   siswa   SD/MI   dengan   terbiasanya  menggunakan  bahasa  Indonesia  yang  baik  dan  benar.

Bertitik  tolak   dari  hal atas, maka bagaimana upaya-upaya membiasakan siswa berbicara   bahasa  Indonesia  di  sekolah ?

A.   Keterampilan Berbicara Bahasa Indonesia di Sekolah

Berbicara merupakan salah satu alat komunikasi yang paling efektif. Hal ini mendorong orang   untuk   belajar   berbicara  dan  membuktikan   bahwa   berbicara   akan   lebih   efektif dibandingkan dengan  bentuk-bentuk  komunikasi  yang  lain.  Maka bagi  siswa   bicara  tidak sekedar merupakan prestasi akan tetapi juga  berfungsi  untuk  mencapai  tujuannya.  Sehingga dalam pembelajaran  bahasa  Indonesia  keterampilan  berbicara  merupakan  kompetensi  yang harus  diujikan sesuai jenjang kelasnya. Keterampilan  berbicara  bahasa Indonesia  di  sekolah dasar ini hanya terwujud pada proses kegiatan  belajar  mengajar  di kelas  saja.  Dalam kompetensi umum mata pelajaran bahasa Indonesia SD aspek berbicara megungkapkan indikator-indikator yang berhubungan dengan mengungkapkan gagasan dan perasaan, menyampaikan sambutan,, berpidato, berdialog, menyampaikan pesan, bertukar pengalaman, menjelaskan, mendiskripsikan, bermain peran, dan percakapan yang hanya dilakukan dalam pembelajaran saja.

Keterampilan berbicara bahasa Indonesia   yang  berhubungan  dengan  keseharian  tidak pernah diukur dan  dinilai. Para  siswa  dibiarkan  berbicara  menggunakan  bahasa  daerahnya masing-masing,   padahal   bahasa   resmi   yang  digunakan  pada  pendidikan  adalah  bahasa Indonesia. Sungguh ironis bila hal ini dibiarkan berlarut-larut pada setiap lembaga pendidikan. Kadang lembaga pendidikan lebih merasa  bangga  bila  dapat  mengembangkan  bahasa  asing lebih maju daripada mengembangkan  bahasa Indonesia,  seperti  kata  pepatah “  kacang  lupa kulitnya .“ Ini adalah bukti konkret  pembelajaran  bahasa  Indonesia  di  sekolah   belum  bisa  mempraktikkan  dalam  kesehariannya.  Ketika  digunakan  dalam  percakapan sering sekali dijumpai berbicara dengan bahasa dialeknya contohnya :  bentar nanti ta anterin,emangnya Pak Guru kagak tahu?, biarin aja anak itu, dan lain-lain. Maka perlu adanya upaya bagi  guru  untuk  menentukan  kebijakan  supaya pembelajaran   bahasa   Indonesia   tidak   hanya  di  kelas  tetapi   juga   di  luar  kelas.

Bila  keterampilan  berbicara  bahasa  Indonesia  dapat  diterapkan  dalam  sehari-hari oleh seluruh anggota  sekolah  maka  akan  menumbuhkan rasa cinta tanah air dan menumbuhkan semangat nasionalisme.  Sehingga  dapat  mempersatukan  berbagai  macam  asal  siswa, hal ini sesuai dengan fungsi khusus bahasa Indonesia yaitu sebagai alat pemersatu berbagai suku yang memiliki latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda-beda(Yusi Rosdiana,2008)

B.  Hambatan Berbicara Bahasa Indonesia dalam Keseharian di  Sekolah

Usaha untuk  meningkatkan  keterampilan  berbicara bahasa  Indonesia  di  sekolah   akan  ditemui hambatan yang datang dari lingkungan sekolah itu  sendiri, antara lain :

1.  Adanya pandangan guru bahwa berbicara bahasa  Indonesia  dalam    keseharian di  sekolah itu tidak lazim.

Hal ini tercermin ketika dalam pergaulan sehari-hari mereka  enggan  berbicara bahasa  Indonesia bahkan  dengan  lugasnya  berbicara  seenaknya.  Mereka  lupa  bahwa penggunaan bahasa Indonesia dipakai pada bahasa resmi lembaga pemerintah dan pendidikan. Hal ini juga terjadi di sekolah-sekolah dari jenjang SD-SMA, mereka para guru tetap menggunakan bahasa daerahnya. Jarang sekali mereka berbicara menggunakan bahasa Indonesia ketika berbicara dengan teman guru atau bahkan dengan para siswanya.

2.    Belum adanya penilaian bagi siswa  yang berbicara bahasa Indonesia.

Keadaan yang demikian menimbulkan sikap apatis pada diri siswa karena merasa tidak ada gunanya baik yang berbicara bahasa Indonesia maupun yang tidak. Belum adanya pengawasan dan penilaian dari guru dalam pelaksanaan berbicara bahasa Indonesia di luar kelas mengakibatkan siswa acuh dalam mempraktikkannya. Sehingga perlu adanya model penilaian yang nyata dalam percakapan sehari-hari.

3.    Tidak adanya program  berbahasa Indonesia dari lembaga  pendidikan.

Untuk sementara ini pada setiap lembaga  pendidikan belum ada yang      mempunyai inisiatif memberlakukan bahasa  Indonesia  sebagai  bahasa  sehari-       hari.  Entah  karena gengsi atau merasa  bahasa  Indonesia  tidak  terkenal.       Padahal  dikatakan  oleh Profesor  Yang Seung- Yoon, Ph.D dari   Hankuk       University  of  Foreign  Stidiudies, Seoul, Korea, berpandangan bahwa bahasa Indonesia berpotensi menjadi bahasa internasional, setidaknya di Asia (M. Doyin, 2006). Pandangan tersebut memperlihatkan kepada kita bahwa kedudukan bahasa  Indonesia di mata negara lain memiliki potensi untuk berkembang. Oleh karena itu, kebanggaan terhadap  bahasa Indonesia harus  kita pupuk  sedini mungkin sebagai wujud  penghargaan kita terhadapnya, sehingga ke depan kita dapat berharap bahasa Indonesia  menjadi besar.

C.  Upaya Meningkatkan Keterampilan Berbicara Bahasa Indonesia di Sekolah

Untuk   mewujudkan    keterampilan    berbicara  bahasa   Indonesia    dapat diterapkan dalam percakapan  sehari-hari, maka upaya untuk meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Indonesia di sekolah, dapat dilaksanakan program  sebagai  berikut :

1.    Guru menjadi model yang baik untuk dicontoh oleh siswa

Redja Mudyahardjo(Ishak Abdulhak:2008) mengelompokkan jenis kemampuan pokok yang ideal dikuasai guru prefesional, diantaranya  adalah kemampuan membantu siswa belajar efisien dan efektif agar mencapai tujuan optimal. Siswa sangat membutuhkan suatu model guru yang dalam berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.   Guru  hendaknya memberikan contoh konkret dengan keteladanan  dalam berbahasa. Agar siswa  dapat  menirukan  dan  melafalkan  kata  atau    kalimat dengan tepat sesuai kaidah yang berlaku.

Dalam melaksanakan upaya di atas, maka dalam kegiatan sehari-hari di sekolah dalam berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Mereka berbicara bahasa Indonesia dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, ruang guru, atau di luar kelas. Para guru pada saat berkomunikasi selama di sekolah  selalu berbicara bahasa Indonesia, adanya kebiasaan guru yang demikian cukup membantu siswa dalam belajar keterampilan berbicara bahasa Indonesia sehingga guru oleh siswa  dijadikan contoh  dalam berbicara.

2.    Menerapkan pembelajaran dengan pendekatan Modeling The Way

Pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia pada keterampilan  berbicara bahasa Indonesia perlu menerapkan pendekatan Modeling The Way (membuat contoh praktik). Strategi ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktikkan keterampilan berbicara bahasa Indonesia melalui demonstrasi, dari hasil demonstrasi ini kemudian diterapkan dalam keseharian di sekolah, yaitu siswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil, identifikasi beberapa situasi umum yang biasa siswa lakukan di ruang kelas dan  luar kelas dalam berbicara bahasa Indonesia yang baik dan benar, kemudian siswa mendemonstrasikan satu persatu dalam berbicara bahasa Indonesia. Modeling The Way memberi waktu siswa untuk menciptakan  skenario sendiri dan menentukan bagaimana mengilustrasikan keterampilan berbicara sesuai kelompoknya. Kemudian siswa diberi kesempatan untuk memberikan feedback pada setiap demonstrasi yang dilakukan.

Dengan pendekatan Modeling The Way dalam pembelajaran bahasa Indonesia, keterampilan berbicara siswa  dapat meningkat dan keberanian siswa dalam berbicara semakin berani dan tidak takut salah, dari kegiatan tersebut diperoleh contoh  data di SDN Tegalwangi 01  sebagai berikut : pembelajaran awal sebelum menggunakan pendekatan Modeling The Way dari 45 siswa kelas VI hanya 16 siswa yang sudah aktif berbicara bahasa Indonesia dengan prosentase 36 % sedangkan 29 siswa masih pasif dalam berbicara dengan prosentase 64 %. Setelah dalam pembelajaran bahasa Indonesia menggunakan pendekatan Modeling The Way maka diperoleh data sebagai berikut : siswa yang aktif berbicara menjadi 41 siswa atau 91 % sedangkan 4 siswa atau 9 % dilakukan pembinaan individual. Dengan demikian pembelajaran dengan pendekatan Modeling The Way pada keterampilan berbicara bahasa Indonesia pada siswa  tepat karena dapat meningkatkan kemampuan keterampilan berbicara bahasa Indonesia.

3.    Adanya penilaian keterampilan berbicara bahasa Indonesia

Walaupun pelaksanaannya di luar kegiatan belajar mengajar tetapi guru harus mengadakan penilaian keterampilan berbicara pada  kesehariannya.  Penilaian ini akan menjadi motivasi bagi siswa untuk berusaha  mempraktikkannya  baik di dalam  kelas maupun di luar kelas.  Dengan   demikian  siswa  termotivasi  untuk  melakukan   perbuatan   yang  sama  bahkan berusaha   meningkatkannya.

Penilaian praktik di luar kelas dengan cara siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil sesuai pada pendekatan Modeling The Way. Pada kelompok-kelompok tersebut setiap siswa diberi lembar penilaian yang memuat nama siswa yang diamati yaitu siswa yang tidak berbicara bahasa Indonesia baik di dalam kelas maupun di luar kelas, data kalimat yang tidak diucapkan dengan bahasa Indonesia oleh  siswa tersebut, dan data rekap kesalahan siswa. Setiap siswa dalam pergaulannya sehari-hari di sekolah saling menilai teman-temannya, sehingga mereka sama-sama saling mengawasi. Dengan kondisi dan situasi yang demikian maka seluruh siswa  berusaha semaksimal mungkin berbicara bahasa Indonesia sehari-hari, supaya jumlah kesalahan yang dicatat temannya sedikit mungkin. Hal inlah yang membuat siswa semakin berani dan percaya diri berbicara bahasa Indonesia di sekolah.

4.    Sekolah Membuat Program ” Sehari Berbahasa Indonesia

Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar bahasa adalah kondisi eksternal. Kondisi eksternal yaitu faktor di luar diri siswa, seperti lingkugan   sekolah, guru,teman sekolah, dan peraturan sekolah.  Kondisi eksternal terdiri atas 3 prinsip belajar yaitu :

(a)    memberikan situasi atau materi yang sesuai dengan respon yang diharapkan,

(b)   pengulangan agar belajar lebih sempurna dan lebih lama di ingat,

(c)    penguatan respons yang tepat untuk mempertahankan dan menguatkan respons itu(Yusi Rosdiana,2008)

Program sehari berbahasa di tiap  sekolah  merupakan  kondisi eksternal   yang efektif untuk mempraktikkan keterampilan berbahasa. Hal ini sudah sangat  lazim  dilakukan pada pondok pesantren modern,  contohnya  Pondok Pesantren  Gontor   yang    menerapkan   program  kepada  santrinya  untuk sehari  berbahasa  Arab  dan  sehari  berbahasa  Inggris,  sehingga santrinya mahir berbahasa Arab dan Inggris.

Bila program  ini dapat diterapkan di sekolah tentunya  akan  sangat  bermanfaat  dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari. Mereka akan terbiasa dan tidak  canggung berbicara   bahasa Indonesia di lingkungan sekolah. Program ini ternyata cukup ampuh untuk pembiasaan bagi warga sekolah untuk berbicara bahasa Indonesia.

Dari upaya-upaya pembiasaan berbicara bahasa Indonesia di atas, kita berharap  penguasaan  keterampilan berbicara bahasa  Indonesia  dapat  dimulainya  pada tataran  sekolah  dasar, sehingga siswa  dapat  mempraktikkannya   dengan  baik  dan  benar.  Bila hal itu berhasil maka  amanat  yang  ada  pada  Undang-Undang  Sistem  Pendidikan  Nasional  dapat  tercapai tujuannya dan sekaligus sebagai penghargaan kepada  para  tokoh  yang  memperjuangkan  bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Apalagi  kita sebagai  generasi  penerus  bangsa harus dapat mengembangkan dan melestarikan bahasa Indonesia. Kapan lagi  kalau tidak dari sekarang?
Sumber: MEMBIASAKAN KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA INDONESIA DALAM KESEHARIAN DI SEKOLAH | Agupena Jawa Tengah http://agupenajateng.net/2011/04/11/membiasakan-keterampilan-berbicara-bahasa-indonesia-dalam-keseharian-di-sekolah/#ixzz1ds9PCQyD
Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial Share Alike

Posted November 17, 2011 by beninugraha79 in Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: