PKn kelas X   Leave a comment

BAB I

DAMPAK PERUBAHAN SOSIAL

Standar Kompertensi:

Kemampuan mendeskripsikan makna dari dampak perubahan sosial

Kompetensi Dasar:

  1. Siswamampu mendeskripsikan proses perubahan sosial di masyarakat
  2. Siswamampu menganalisis dampak dari perubahan sosial terhadap kehidupan mayarakat
  3. Siswamampu memberikan contoh dampak dari perubahan sosial

 

Pada hakikatnya setiap masyarakat melakukan berbagai perubahan dalam kehidupan bermasyarakatnya. Namun perubahan yang terjadi di masyarakat memiliki tingkat perubahan yang bergam, ada yang cepat, biasa-biasa saja, dan bahkan terdapat pula yang lambat dalam melakukan perubahan. Parasosiolog mengkategorikan masyarakat kedalam dua tipe. Pertama, masyarakat yang statis ialah masyarakat yang sedikit atau lambat dalam melakukan perubahan. Kedua, masyarakat dinamis ialah masyarakat yang melakukan perubahan dengan cepat. Pada kurun waktu tertentu masyarakatIndonesiabisa dikatakan statis, dan dan pada masa yang lain masyarakatIndonesiadapat dikatakan dinamis. Perlu menjadi perhatian kejelasan akan perubahnnya dalam bidang apa ? apakah ekonomi, sosial atau dalam bidang budaya dan lain sebagainya.

Gambar masyarakt kampung Baduy dalam

Gambar kemajuan masyarakat perkotaan

Kalau kita perhatikan pendapat orang terhadap perkembangan suatu daerah, terkadang ada orang yang mengatakan bahwa daerah X tidak berkembang, sepintas lontaran kalimat tersebut terdengar biasa-biasa saja akan tetapi pada hakikatnya tidak ada masyarakat yang tidak berubah. Untuk menilai suatu daerh berubah ataupun tidak, perlu adanya ketelitian dalam melihat suatu daerah, dan dengan menggunakan metode perbandingan antara daerah X ketika waktu dulu dengan daerah X pada waktu sekarang.

Misalkan pada waktu awal kemerdekaan masyarakat Indonesia menggunakan alat komunikasi berupa radio dan surat menyurat yang masih sederhana, dibandingkan dengan masyarakat Indonesia pada saat sekarang ini mereka sudah memiliki alat komunikasi yang beragam seperti halnya; TV, Internet, Telpon, Hand Phone, dan masih banyak lagi yang lainnya. Hal tersebut adalah contoh kecil bahwa dalam masyarakat selalu terdapat perubahan baik perubahan yang kecil ataupun besar.

  1. A.    Menjelaskan proses perubahan sosial di masyaraat

Suatu proses perubahan sosial dapat diketahui dengan memperhatikan cirri-ciri tertentu, seperti halnya tidak ada masyarakat yang berhenti perkembangannya, karena setiap masyarakat mengalami perubahan yang terjadi secara lambat atau cepat (Hoogvelt, 1976: 9). Proses perubahan merupakan sebuah proses mata rantai karena antara lembaga yang satu dengan lembaga yang lain saling ketergantungan. Apabila terjadi perubahan pada satu lembaga akan berdampak perubahan pada lembaga yang lain.

  1. 1.      pengertian perubahan sosial

Perlunya pembatasan perngertian mengenai perubahan sosial oleh para ahli sosiologi agar tidak mengjadi kabur dalam setiap topik pembicaraan mengenai perubahan sosial. Berikut ini terdapat beberapa pengertian perubahan sosial:

William F. Ogburn (1965: 10) ia mengemukakan ruang lingkup perubahan-perubahan sosial meliputi unsur-unsur kebudayaan baik yang material maupun yang immaterial, yang ditekankan adalah pengaruh besar unsur-unsur kebudayaan material terhadap unsur-unsur  immaterial.

Mac Iver (1937: 272) membedakan antara utilitarian elements (benda-benda yang tidak langsung memenuhi kebutuhan manusia seperti mesin tik, pesawat telepon, sekoah) dengan cultural elements (ekspresi jiwa yang terwujud dalam cara-cara hidup, berpikir, seni, pergaulan, agama filsafat dan lain-lain) yang didasarkan pada kepentingan-kepentingan manusia yang primer dan sekunder.

Gillin dan Gillin (1957: 279)  mengartikan perubahan sosial  sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komosisi penduduk, ideology maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat.

Selo Soemardjan mengartikan perubahan sosial ialah sebagai segala perubahan dalam lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola prilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

  1. 2.      Teori-teori perubahan sosial

Paraahli sosiolog berpendapat bahwa perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam bidang geografis, biologis, ekonomis pada setiap masyarakat merupakan suatu perubahan yang sifatnya wajar yang timbul karena interaksi dan pergaulan hidup diantara manusia. Terdapat pula ahli sosiologi yang berpendapat bahwa perubahan sosial tersebut bersifat periodik dan non periodik.

Pitirin A. Sorokin (1928: 739) menemukakan bahwa perubahan sosial adalah segenap usaha untuk mengemukakan bahwa terdapat suatu kecenderungan yang tertentu dan tetap dalam perubahan-perubahan sosial, tidak akan berhasil dengan baik. Dari teori tersebut ia meragukan adanya lingkaran perubahan sosial, akan tetapi ia menitik beratkan bahwa setiap perubahan sosial yang terjadi harus dipelajari secara matang agar dapat ditaeik suatu generalisasi.

Teori modernisasi Keller & Calhoun (1989) mereka mengemukakan bahwa Negara-negara yang terbelakang akan menempuh jalan yang sama, seperti apa yang telah dilakukan oleh Negara-negara maju di Barat. Kemudian Negara-negara terbelakang tersebut akan berubah menjadi suatu Negara-negara yang berkembang dengan melalui tahap modernisasi. Teori medernisasi memiliki kecenderungan, memandang bahwa setiap perubahan yang terjadi pada suaut masyarakat berlangsung secara evolusioner dan linear yang mengarah pada kemajuan dan modernitas.

Etzioni-Halevy dan Etzioni (1973:177) mereka mengemukakan bahwa transisi perubahan dari suatu masyarakat tradisional kearah masyarakat yang modern. Dipengaruhi oleh revolusi demografi hal tersebut ditandai dengan menurunnya angka kematian, kelahiran, pengaruh keluarga. Terdapat pula gejala terbuatnya sistem stratifikasi, terjadinya peralihan dari suau struktur feodal (kesukusan) kapada suatu birokrasi, beralihnya fungsi pendidikan dari keluarga dan komunitas menjadi suatu sistem pendidikan formal.

Teori ketergantungan (dependencia). Giddens (1989) mengutarakan bahwa perkembangan dunia ketiga berlangsung tidak merata, hal tersebut dapat dilihat bahwa terdapatnya dominasi negara-negara maju terhadap pembangunan industrialisasi secara dominant sedangkan disisi lain Negara-Negara berkembang memiliki ketergantungan ekonomis terhadap Negara-negara Industri. Menurut teori ketergantungan bahwa perkembangan Negara-negara Industri berjalan bersamaan dengan kolonialisme dan neo-kolonialisme pada Negara-negara terbelakang. Sehingga Negara-negara dunia tidak mengalami tinggal landas menjadi Negara maju, akan tetapi semakin terbelakang.

Contoh: Krisis yang dialami oleh Indonesia pada tahun 1997 sampai dengan saat ini belum mampu untuk keluar dari krisis tersebut, hal tersebut karena masih dissibukkan harus membayar utang luar negri terhadap IMF, CGI dan World Bank. Sehingga nilai tukar rupiah (Rp) masih tinggi tahun 2006 sekitar Rp 9700/ 1 dolar  terhadap nilai tukar dolar ($).

Teori sistem dunia yang dirumuskan oleh Immanuel Wallerstein (Giddens 1989) perekonomian kapitalis pada saat sekarang ini tersusun pada tiga jenjang: Negara-negara inti yang terdiri atas Negara-negara Eropa Barat yang dimulai pada proses Industrialisasi sejak abad 16 dan menjadi Negara yang maju, Negara-negara semi-periferi ialah Negara-negara yang berada di Eropa Selatan secara ekonomis menjalin hubngan dagang dengan Negara-negara di Eropa akan tetapi tidak berkembang, dan Negara-negara periferi adalah Negara-negara yang berada di kawasan Asia dan Afrika yang berada diluar jangkauan Negara-negara inti, kemudia dengan sistem kolonialisasi berubah menjadi Negara-negara yang termasuk kedalam sistem dunia. Dominasi Negara-negara inti terhadap sistem dunia yang menyebabkan eksploitasi sumberdaya secara berlebih-lebihan, dan hanya menguntungkan bagi Negara-negara inti sehingga terciptanya kesenjangan yang sangat jauh antara Negara-negara inti dengan Negara-negara semi periferi dan periferi.

  1. 3.      Pola–pola perubahan

Terdapat 3 pola perubahan yakni perubahan evolusi, difusi dan akulturasi. Evolusi ialah hasil pemikiran yang selalu berubah-ubah. Lewis H. Morgan yang pertama kali menerapkan ide evolusi pada suatu perkembangan sosial, ia menelusuri perkembangan kebudayaan manusia secara beurutan dari mulai tingkat kekejaman, kebiadaban, sampai ketingkat peradaban. (Jacobs & Stern, 1952: 122). Ia menyadari bahwa penyebaran dari unsur kebudayaan lain bisa mengubah terhadap urutan perkembangan kebudayaan tertentu, sehingga kemajuan suatu kebudayaan sejalan dengan kemajuan dalam bidang teknologi.

Teori evolusi kuno memiliki ide bahwa suatu organisasi sosial yang primitif ialah suatu bentuk kekeluargaan matrilineal (garis keurunan Ibu). Bentuk ini menghasilkan kekeluargaan patrilineal dan patriaskhat (garis keturunan ayah) yang disebabkan oleh dominasi kaum laki-laki, (Marshall D, 1960:8).

Wolf (1970: 1981, 190) membayangkan bahwa evolusi dalam arti perkembangan keseluruhan baik dari sisi kuantitatif yang menyatakan tingkat evolusi secara numerik (angka-angka) maupun dari sisi kualitatif ialah munculnya komponen kebudayaan baru yang memasukkan komponen yang ada menurut cara yang baru. Sementra Steward (1955: 4), melakukan tiga pendekatan utama guna memahami perkembangan suatu kebudayaan, antara lain;

  1. Pendekatan teoritis evolusi kuno dan teori yang menganggap suatu perkembangan evolusi menurut garis lurus.
  2. Pendekatan Teoritis ‘relativitas kebudayaan’ yang melihat perkembangan kebudayaan ‘pada dasarnya berbeda-beda’ dan yang mencoba mengidentiffikasi cirri-ciri kebudayaan yang membedakan antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lainnya.
  3. Pendekatan evolusi multilinear.

Difusi ialah sebagai suatu proses menyebarkan ciri suatu penemuan kebudayaan (inovasi) dari satu masyarakat ke masyarakat yang lain, mencakup seluruh lapisan masyarakat. Kroeber, mengemukakan bahwa difusi selalu menimbulkan perubahan bagi kebudayaan yang menerima unsur kebudayaan lain yang menyebar tersebut. Sedangkan suatu kebudayaan yang marjinal ialah kebudayaan yang jauh letaknya dari pusat kebudayaan yang lebih tinggi, dalam perkembangaanya jauh lebih tertinggal karena kurangnya mendapatkan manfaat dari proses difusi. Contoh: Kebiasaan merokok dengan menggunakan pipa berasal dari Amerika Tropis dimana tembakau merupakan tanaman pribumi Indian, menyebar sampai keasiakarena pengaruh penyebaran dari penjelajahan orang Spanyol terlebih dahulu bertemu dengan orangIndian Amerika Tropis.

Sapir dan Wissler (Herskovis,  1947: 51755), mencoba memusatkan suatu perhatian terhadap masalah identifikasi dan menurut penyebarannya beberapa aspek teori kebudayaan. Contoh: bahwa cirri suatu kebudayaan cenderung menjadi semakin rumit sepanjang waktu, sebab, semakin sederhananya ciri suatu kebudayaan menandakan bahwa kebudayaan tersebut semakin tua, dan semakin tersebarnya suatu kepudayaan dari pusat kebudayaan sampai ke kawasan pinggiran juga menandakan tuanya kebudayaan tersebut.

Akulturasi ialah saling mempengaruhinya antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya, yang menghasilkan sebuah perubahan terhadap kebudayaan tersebut. Redfield, Linton, dan Herskovis (1967: 182), mendefinisikan akulturasi yang meliputi fenomena yang dihasilkan semenjak dua kelompok kebudayaan yang berbeda mulai melakukan kontak langsung, dengan diikuti perubahan pola kebudayaan asli baik salah satu kelompok ataupun kedua-duanya. Akan tetapi terdapat pula kontak antara dua kebudyaan yang tidaka menghasilkan perubahan apapun terhadap kedua kebudayaan yang melakukan kontak, seperti apa yang terjadi pada suku-suku tertentu diIndiabagian selatan.

  1. 4.      Faktor yang mendorong Perubahan

Faktor pendorong merupakan suatu nilai yang terdapat dalam setiap individu atau pu masyarakat yang memiliki keinginan kuat untuk melakukan perbaikan-perbaikan keaarah yang lebih baik dalam kehidupan berkelompopk  ataupun bermasyarakat. Factor pendorong tersebut bisa dikarenakan terdapatnya suatu tekanan dari kebudayaan orang lain, percampuaran atar dua kebudayaan, atau bahkan berdasarkan atas kebutuhan dari kelompok itu sendiri. Berikut ini akan dijelaskan mengenai beberapa hal yang menjadi penyebab terjadinya perubahan, antara lain:

  1. Kontak dengan kebudayaan lain, yaitu terjadinya proses difusi. Baik yang berbentuk intra masyarakat yang dipengaruhi oleh suatu pengakuan bahwa unsur yang baru tersebut mempunyai kegunaan, ada tidaknya unsur-unsur kebudayaan yang mempengaruhi diterimanya atau tidak diterimanya untur-unsur yang baru, unsur baru yang berlawanan dengan fungsi unsur lama, kemungkinan besar tidak akan diterima, kedudukan dan peranan sosial dari individu yang menemukan sesuatu yang baru tadi akan mempengaruhi apakah hasil penemuannya itu dengan mudah diterima atau tidak, pemerintah dapat membatasi proses difusi terseut.  Difusi antar masyarakat juga dipengaruhi adanya kontak antara masyarakat-masyarakat tersebut, kemampuan untuk mendemontrasikan kemanfaatan penemuan baru tersebut, ada-tidaknya unsur-unsur kebudayaan yang menyaingi unsur-unsur penemuan baru tersebut, peranan masyarakat yang menyebarkan penemuan baru di dunia ini, paksaan dapat juga dipergunakan untuk menerima suatu penemuan baru.

Proses difusi terhadap budaya bangsa, pada dewasa ini terjadi dengan sangat cepat. Hal ini dibantu oleh kemajuan akan teknologi dan informasi sepertihalnya media elektronik dan Koran. Proses difusi dapat kita lihat pada saat peristiwa Sumpah pemuda yang terjadi pada tahun 1928, yang telah mempelopori Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu seluruh bangsaIndonesia. Walaupun asal-muasal bahasa Indonesia ialah berasal dari bahasa Melayu yang tinggal di pesisirSumatra. Perubahan yang terjadi pada masyarakat kita dapat melihat pada penggunaan bahasa yang terjadi pada Maha siswa-siswi sekolah, mereka sudah sering menggunakan bahasa Indonesia dalam berinteraksi dengan teman bermainnya, ketimbang menggunakan bahasa daerahnya sendiri/bahasa Ibu. Dengan proses difusi seperti ini lambat laun bahasa daerah menjadi bahasa yang asing dimata generasi muda, dan akhirnya memudar serta hilangnya akan bahasa daerah.

  1. Akulturasi merupakan salah satu bentuk dari difusi, yakni terdapatnya percampuran antar dua kebudayaan atau lebih. Misalkan antara kebudayaan barat dengan kebudayaan timur. Berikur ini adalah proses akulturasi yang kurang bergitu menguntungkan bagi budaya nasional, dapat kita perhatikan pada perkembangan pakaian yang dikenakan oleh remaja dewasa ini. Mayoritas remaja putri mengenakan pakaian yang sopan. Misalnya bagi seorang muslimah mengenakan kerudung, karena terdapatnya proses akulturasi dari budaya barat pakaian kerudung tersebut dikenakan dengan pakaian celana dan baju yang mengetat dengan postur tubuh, awal nilai pakaian yang dikenakan adalah sopan dan tidak mengeksploitasi bagian tubuh, berubah menjadi sebaliknya.
  2. Asimilasi biasanya terjadi pembauran antara etnis-etnis lokal dalam pergaulan dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut dapat kita lihat pada proses perkawinan antar dua kebudayaan yang dulu dianggap tabu, yang biasanya kalau ingin menikahkan putra-putrinya harus dengan etnisnya sendiri misalkan jawa dengan jawa, sunda dengan sunda. Akan tertapi hal tersebut dengan terjadinya proses asimilasi menjadi tidak tabu lagi, sekarang ini kita dapat menghadiri pernikahan yang terjadi antara dua etnis yang berbeda. Misalkan Orang sunda dengan orang Jawa, orang Jawa denga orang Batak dan lain sebagainya. Namun hal yang bersifat perjudis (perbedaan dalam agama misalkan Islam dengan Kristen) tetap akan menghalangi proses asimilasi karena hal tersebut terkait dengan nilai-nilai keagamaan masing-maing yang mereka yakini.
  3. Inovasi ialah setiap individu yang memilki pemikiran-pemikiran yang baru sehingga dapat mengjasilkan karya yang baru. Proses perubahan masyarakat menjadi masyarakat yang modern tergantung dari seberapa besar suatu masyarakat memiliki daya kreatifitas yang tinggi, karena tingginya kreatifitas masyarakat maka akan terjadinya percepatan modernisasi yang terjadi pada suatu kelompok ataupun masyarakat, akantetapi jika masyarakat tersebut terisolasi dan rendah dalam berkreasi maka akan lambat terjadinya proses perubahan modernisasi. Dapat diamati proses inovasi pada dunia teknologi yang berlangsung dengan depat, pada waktu jaman kemerdekaan masyarakata Indonesia hanya mampu menonton televise dengan warna yang hitam putih, kemudian berubah dengan TV yang berwana namun masih terbatas pada beberapa saluran televisi, pada saat sekarang orang menonton TV pun tidak terbatas dirumah akan tetapi bisa sambil melakukan perjalanan di kendaran bermobil di hand phone, dan saluran televisinya pun bisa mengakses seluruh siaran yang ada di muka bumi ini.
  4. Sistem pendidkan Formal yang maju. Karena perubahan sikap dan prilaku seseorang diawali dengan perubahan pengetahuan (kognisitf) yang dimiliki setiap individu. Sistim pendidikan dapat merubah cara berpikir seseorang, pada saat dahulu masyarakat Indonesia sangat menyakini akan adanya mitos (sesuatu yang belum tentu akan kebenarannya) seiring denga proses pendidikan cara berpikir tersebut bergeser ke cara berfikir yang harus dibuktikan dengan kenyataan (empiris) atau pada masalah-masalah yang benar-benar terjadi di masyarakat. Contohnya, kaum perempuan hanya cukup memiliki keterampilan dalam memasak dan membesarkan anak di rumah, akan tetapi kebutuhan tersebut seiring deng perkembangan dunia pendidikan hal tersebut tidak memenuhi akan adanya perkembangan pola berpikir serta kebutuhan kaum perempuan pada saat sekarang ini, yang akhirnya banyak kaum perempuan yang melanjutkan sekolah kejenjang perguruan tinggi.
  5. Krisis ialah suatu keadaan yang terpuruk dikarenakan terjadinya proses akulturasi kebudayaan. Misalkan krisis identitas bangsa yang memudar di kalangan generasi muda, menurunnya nilai moral (dekadensi moral) yang di alami oleh generasi muda Indonesia pada saat sekarang ini yang disebabkan masuknya nilai budaya Barat yang negative, seperti halny free sex, alkoholik, drug, club malam menjadi suatu dunia yang akrab dikalangan remaja. Hal tersebut akan menyebabkan generasi muda yang kehiilangan arah tujuan hidup karena hari-harinya disibukkan oleh mengkonsumsi obat-obat terlarang yang akan merengut kesehatan fisik bahkan mental, jika proses regenerasi bangsa tidak berjalan dengan baik maka tidak menutup kemungkinan terjadinya generasi yang hilang (lost generation). Sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memulainya kembali, sementara bangsa-bangsa lain sudah semakin pesat untuk melakukan perubahan demi kemajuan bangsanya.
  6. Visi ialah arah tujuan yang akan dicapai oleh suatu masyarakat. Peran visi ini sangat berarti untuk menentukan langkah-langkah apa yang mesti dilakukan agar terjadinya proses perubahan pada suatu masyarakat. Sehingga setiap langkah yang dilakukan menjadikan proses perubahan terjadi menjadi terukur (efektif dan efisien) tidak berlarut-larut. Misalkan visi masyarakat Indonesia ingin menghilangkan budaya korupsi yang terjadi dikalangan birokrat dan masyarakat, maka langkah yang dibuat ialah menbudayakan kembali sikap saling keterbukaan antara masyarakat, dan memiliki rasa tanggung jawab bersama atas perkembangan masyarakat.

Penugasan: setelah mempelajari materi diatas, indentifikasi oleh anda proses terjadinya difusi, asimilasi, dan inovasi yang terjadi dilingkungan saudara? Berikanlah pendapat saudara tentang dampak positif dan negarif dari proses tersebut terhadap lingkungan saudara. Kemudian hasil identifikasi tersebut diskusikan dengan teman anda di kelas.

  1. 5.      Faktor yang menghambat perubahan.

Perubahan berlangsung secara cepat atau lambat, dapat sisebabkan oleh factor-faktor yang menghambat dari arus perubahan itu sendiri, tingkat hambatan yang dialami oleh suatu kelompok masyarakat dapat kita lihat dalam uraian berikut ini, antara lain:

  1. Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain. Keterasingan suatu masyarakat menyebabkan masyarakat tersebut tidak mengetahui berbagai perkembangan yang terjadi, yang disebabkan oleh pola berpikir yang masih tradisional. Keterasingan tersebut bisa dikarenakan letak geografis suatu masyarakat yang terpencil, kurangnya arus innformasi yang masuk, rendahnya tingkat pendidikan yang diperoleh suatu masyarakat atau bahakan dikarenakan nilai budaya lokal yang melarang setiap anggotanya untuk berinteraksi dengan masyarakat yang berada diluar kelompok masyarakatnya karena dianggap merugikan bagi kelompoknya. Misalkan pada jaman dulu terjadinya proses kolonialisasi pada masyarakat papua, sehingga berdampak pada saat sekarang masyarakat papua yang masih berada didaerah pegunungan jarang melakukan interaksi dengan kelompok masyarakat yang lainnya, bahkan jika terdapat orang asing yang datang kedalam kelompok masyarakatnya dicurigai akan mendatangkan kerugian pada masyarakat papua tersebut, sehingga memudahkan terjadinya konflik kekerasan.
  2. Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat. Hal ini karena masyarakat terlalu lama mengalami penjajahan (kolonilisme/neo-kolonialisme). Bangsa Indonesia sangat kenyang dengan proses penjajahan oleh bangsa lain, belanda selam 350 tahun, dan Jepang 3,5 tahun. Kebebasan untuk memperoleh pendidikan bagi masyarakat Indonesia setelah terjadinya Kemerdekaan, karena pada jaman kolonialisme yang berhak untuk memperoleh pendidikan ialah mereka-mereka yang memiliki ketutunan kerajaan, atau orang-orang yang memiliki garis keturunan ningrat.
  3. Sikap masyarakat yang sangat tradisional. Suatu pandangan yang menganggap tradisi tidak dapat diubah, dan terlalu mengagung-agungkan tradisi. Misalkan apa yang terjadi pada masyarakat Mesuku di pulau Anambar, kepulauan Natuna, mereka percaya bahwa, alam semesta ini dihuni oleh manusia, mahluk halus dan roh yang mendiami setiap ruang dan benda. Gejala serta peristiwa selalu dikaitkan dengan sejumlah pantrangan yang dilanggar oleh anggota masyarakatnya. Untuk meredakan kekuatan gaib yang mengusai alam semesta ini maka diredanya dengan mengadakan upacara bersaji dan berkorban. Keberdaan dukun sangatlah dihormati karena dianggap mampu untuk mengembalikan keadaan normal dari kondisi bencana, dan dianggap menguasai teknik-teknik tersendiri untuk menyembuhkan berbagai penyakit dengan membacakan mantra-mantra.
  4. Adanya kepentingan-kepentingan yang telah tertanam dengan kuat atau vested interests. Dalam setiap organisasi sosial yang mengenal sistem lapisan masyarakat akan terdapat sekelompok masyarakat yang menikmati kedudukan perubahan-perubahan. Maksud dari penjelasan tersebut ialah perubahan-perubahan yang terjadi dalam setiap masyarakat hanya dinikmati oleh sekompok masyarakat tertentu tidak dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat sehingga terjadinya ketimpangan sosial. Misalnya peningkatan kesejahteraan dalam pendapatan ekonomi, satu sisi masyarakat masih mengalami krisi ekonomi gagal panen, sulit mendapatkan bahan bakar minyak dan harga yang tinggi, sementara kelompok elit pemerintah tidak merasakan hal tersebut karena di topang oleh berbagai fasilitas Negara.
  5. Rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan. Kehawatiran akan menggoyahnya integrasi unsur-unsur yang terdapat dalam suatu masyarakat, yang diakibatkan oleh unsur-unsur dari luar. Misalkan terjadinya proses globalisasi atau westernisasi dianggap sesuatu yang mutlak akan membawa dampak negatife bagi budaya nasional dan lokal. Akan tetapi akar permasalahannya ialah proses globalisasi dan westernisasi akan berdampak negarif terhadap budaya lokal jika masyarakat terutama generasi muda tidak mengenal secara berul akan budayanya sendiri dan tujuan apa yang ingin di capai oleh merebaknya proses globalisasi dan westernisasi.
  6. Prasangka buruk terhadap hal-hal baru atau asing atau sikap yang tertutup. Kecenderungan ini dapat dijumpai pada masyarakat-masyarakat yang pernah mengalami penjajahan. Sikap tertutup yang timbul disini ialah karena dampak yang telah mereka terima pada masa penjajahan, seperti kerja paksa/kerja rodi yang tidak mendapatkan upah yang layak, perbudakan dan lain sebagainya. Kondisi tersebut menjadi trauma yang berkepanjangan, sehingga memiliki rasa ketakutan yang berlebihan jika akan melakukan interaksi dengan orang asing diluar kelompok masyarakatnnya.
  7. Hambatan-hambatan yang bersifat ideologis. Setiap usaha perubahan pada unsur kebudayaan rohaniah. Biasanya diartikan sebagai suatu usaha yang berlawanan dengan ideology masyarakat yang sudah menjadi dasar integrasi masyarakat tersebut.
  8. Adat atau kebiasaan. Apabila kebiasan dalam suatu masyarakat begitu kokoh diterapkan lam kehidupan sehari-hari, sepertihalnya kepercayaan, mata pencaharian, cara berpakaian, begitu kokoh sehingga sukar untuk diubah. Contohnya yang terjadi pada masyarakat baduy dan kampung naga di wilayah Jawa Barat, pakaian yang mereka gunakan ialah pakaian sunda buhun dan mata pencahariannya pun hanya berkisar dari wilayah kampungnya sendiri, tidak memperbolehkan anggota masyarakatnya mengenakan pakaian-pakaian yang modern.
  9. Nilai bahwa hidup ini pada hakikatnya buruk dan tidak mungkin di perbaiki. Dengan memiliki nilai yang tertanam pada setiap kelompok masyarakat seperti tersebur diatas, maka sulit untuk terjadinya proses inovasi dan perbaikan-perbaikan dalam tatanan kehidupan masyarakat. Sehingga kehidupan berkelompok dan bermasyarakat berjalan dengan apa adanya. Dan kegaiatan sehari-hari hanya berputar-putar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sikap seperti inikurang bergitu menghargai akan penemuan-penemuan yang baru bahkan lebih bersifat menyepelekan (apriori) sehingga tidak mengikuti akan perkembangan jaman baik informasi maupun teknologi.

Addendum: Istilah masyarakat dunia ketiga mengacu pada masyoritas masyarakat dunia yang pernah dijajah oleh Negara-negara Barat dan kebanyakan hidupnya diperoleh dari pertanian; istilah masyarakat dunia pertama menacu pada Negara-negara industri maju di Eropa Barat,Amerika,Australiadan Jepang; sedangkan istilah masyarakat dunia kedua mengacu pada Negara-negara yang berada di kawasan Eropa Timur. Sementara Negara-negara yang sedang berkembang disebut juga Negara-negara selatan karena letaknya kebanyakan di sebelah selatan bumi, Giddens (1989: 52-58)

  1. B.     Menganalisis dampak perubahan sosial terhadap kehidupan masyarakat

Gambar kampung kumuh diJakarta

Perubahan sosial yang terjadi diantara dua kelompok tidak selalu berakhir dengan baik ataupun membentuk suatu kebudayaan baru, akan tetapi proses interaksi antara dua kelompok bisa menimbulkan kesenjangan (gap) karena terdapat perbedaan kemajuan yang tidak merata diantara satu kelompok dengan kelompok yang lain.

Hal tersebut dapat kita lihat pada perkembangan masyarakat perkotaan di daerah Jakarta, pada satu sisi kita dapat melihat bahkan merasakan akan kenyamanan dan kemewahan dalam pelayanan di kota Jakarta bagi setiap masyarakat yang memiliki kemampuan keuangan (financial) yang cukup. Akan tetapi pada sisi yang lain kita dapat terennyuh akibat dari pembangaunan masyarakat tidak mengindahkan masyarakat-masyarakat miskin bahkan mereka tidak memiliki jaminan social yang layak, hidup dipinggiran kali yang kotor, rumah terbuat dari bahan matrial sisa-sisa pembangunan, penghasilan yang jauh dari upah minimum regional, dan bahkan rumah-rumah mereka diusir dan dihancurkan tanpa adanya relokasi yang lebih layak. Kondisi tersebut akan menimbulkan konflik, setidaknya antara si kaya yang memiliki modal tebal dengan kaum miskin.

Kemudian seperti hanya Dual societies, yang diungkapkan oleh J.H. Boeke (1980: 26-37) ia seorang ahli ekonomi Belanda mempertanyakan mengenai peran kapitalisme yang telah membuat tingkat ekonomi dan persatuan masyarakat Barat semakin meningkat. Namun hal tersebut berbanding terbalik ketika kapitalisme datang ke masyaakat Asia Tenggara, karena tingkat persatuan dan kondisi ekonomi masyarakat Asia Tenggara semakin menurun. Gejala yang timbul kemudian ialah kalangan masyarakat atas Asia Tenggara mengalami westernisasi dan urbanisasi sementara kalangan bawah masyarakat mengalami tingkat kemiskinan semakin menghawatirkan.

Masyarakat yang dualistis mengalami berbagai pertentangan pertentangan antara lain: 1) Faktor produksi di masyarakat Barat berlangsung secara dinamis sedangkan pada masyarakat pribumi yang tinggal di pedesaan bersifat statis. 2) masyarakat perkotaan dengan masyarakat pedesaan. 3) ekonomi uang dan ekonomi barang, 4) sentralisasi administrasi dan lokalisasi, 5) kehidupan yang didominasi oleh mesin pada masyarakat barat dan pada masyarakat Timur didominasi oleh kekuatan alam, dan 6) perekonomian produsen dan perekonomian konsumen.

Gambar petani yang misin

Involution ialah  tingkat kerumitan yang berlebihan dan semakin rinci yang menjadikan tiap orang tetap menerima bagian dari panen bertani walaupun bagian yang diperoleh dari waktu-kewaktu semakin mengecil. Hat tersebut terjadi karena kapitalisme Barat dengan menerapkan sistem sawah di Jawa yang hanya mendatangkan kemakmuran bagi masyarakat Barat tetapi mengakibatkan “tinggal landas” dalam bentuk peningkatan jumlah penduduk di pedesaan, Geertz (1996).

Gambar kemajuan masyarakat Eropa Barat

Dampak dari modernisasi menurut Eisenstadt (1966: 32-33), bahwa modernisasi telah menyebabkan disorganisasi sosial, dan sebagai akibatnya memunculkan gelombang protes yang cenderung mengusung tiga tema utama, antara lain:

1)      Pencarian tatanan dan keadilan berlandaskan pada prinsip persatuan

2)      Pencarian “sombol-simbol bersama yang baru” yang dapat memberikan identitas perseorangan dan kolektif.

3)      Pencarian makna dan kemungkinan mengaktualisasikan diri dalam struktur sosial yang sendang muncul.

Perubahan yang tidak kalah pentingnya ialah:

4)      Perubahan dalam bidang pendidikan, hal ini ditandai dengan meningkatnya pertumbuhan organisasi-organisasi pendidikan. Contoh kasus yang terjadi di Jepang dimana sistem pendidikannya dibangun sejak 1872 yang menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi Jepang. Sistim pendidikan di Jepang jauh lebih dulu dibandingkan dengan yang terjadi di Negara-negara Eropa sehingga perkembangan industrialisasi di Jepang berlangsung lebih cepat.

5)      Perubahan kehidupan dalam ruang lingkup keluarga. Hal tersebut disebabkan ide modernisasi sering muncul dari keluarga kecil. Karena kehacuran universal jarang terjadi dalam pola hubungan keluarga yang tradisional. Perubahan universal yang terjadi ialah terjadinya pemindahan sebagian besar fungsi keluarga pada unit sosial lain. Seperi halnya kebutuhan akan pendidikan, ekonomi, agama, emosional yang semula terdapat dalam lingkungan keluarga, kini setelah terjadinya modernisasi sebagian tanggung jawab keluarga dipindahkan pada unit seperti pemerintah, sekolah, dan badan-badan usaha.

Untuk dapat meminimalisir dapak dari perubahan, perlu adanya suatu kejelasan arah modernisasi. Suatu modernisasi tersebut dapat menuju pada sesuatu yang memang baru sama sekali, ataukanh modernisasi berubah pada suatu bentuk yang pernah ada pada waktu yang lampau.

Tidak hanya itu pada sekarang ini berkembang suatu paradigma baru mengenai perkembangan globalisasi. Secara epistimologi globalisasi berasal dari kata Globe yang berarti dunia, menghilangkan sekat-sekat pembatas diantara bangsa dan negara. Daya dorong terjadinya globalisasi ialah dikarenakan terdapatnya kesadaran bahwa sumberdaya alam yang terdapat di antara Negara-negara mulai berkurang, oleh karena itu untuk mempertahankan keberlangsungan hidup umat manusia perlu adanya kerjasama diantara Negara-negara di dunia agar melakukan kerjasama diberbagai bidang secara terbuka, sepertihalnya dalam bidang ekonomi menganadakan istilah perdagangan bebas (free trade) AFTA untuk lebih memudahkan terjadinya pertukaran arus barang dan jasa diantara Negara-negara.

Dengan kata lain globalisasi merupakan percobaan untuk mengatasi sejumlah masalah atau konflik antara pemberlakuan logika yang berbeda dalam perubahan milenium. Konteks logika ini mengangkat dua point penekanan utama, atau kontradiksi di dalam proses globalisasi.

Pertama, dan untuk mengulangi sebuah point krusial, sebuah logika baru dari point pengelompokan-pengelompokan menyarankan sebuah perluasan kegiatan sentralisasi dalam pembubaran wilayah local. Globalisasi ekonomi meningkat dengan bebas pada ikatan keberadaan wilayah dengan sebuah model wilayah dari organisasi politik. Sebuah sistem dari pemerintahan yang terpilih. Apa yang membawa banyak perbedaan kebijakan fundamental yang asimentri antara sebuah system hubungan ekonomi yang horizontal. Di pacu oleh negara yang berseri teknologi yag menghindari regim reguler. Dan kerangka westphalia  dari unit-unit pertical, atau bagsa-negara. Pemberhetian ekonomi dan politik globalisasi berubah secara ganjil. Dimana terdapat perbedaan-perbedaan fundamental antara komponen-komponen dari kendaraan ini dan salah satu yag menggunakan sebagai aksesoris dan suku cadangnya.

Kedua kebalikan dan latar belakang, tekanan-tekanan memucak untuk menambah demokratisasi pada level nasional. Pencarian tersebut untuk berdampak pada transisi demokrasi yang menganggap kekuatan masyarakat sebagai sebuah maksud untuk membatasi kekuatan negara, mengekang pelecahan dan korupsi dan memastikan kemampuan, konsentrasi global dan kekuatan ekonomi di kontrol dan sulit untuk dikendalikan, baik oleh masyarakat local maupun oleh perkumpulan yang sesugguhnya yang mengklaim di daulat. Masalah-masalah kemunculan disamping, struktur dari kekuatan pusat membuktikan pertahanan terhadap tantangan demokratisasi, sebuah perbedaan mengarah oleh beberapa sebagai bukti kebutuhan untuk perbaikan institusional dan oleh yang lainnya sebagai sesuatu yang tidak bisa dijembatani.

Para kritikus globalisasi menuduh negara-negara Barat munafik, dan mereka benar. Negara-negar Barat telah memaksa negara-negara miskin untuk menghapuskan hambatan-hambatan perdagangan, tetapi tetap mempertahankan hambatan perdagangan mereka sendiri, mencegah negara-negara berkembang mengekspor hasil pertanian mereka dan akibatnya mengurangi pendapatan ekspor yang sangat mereka butuhkan. Amerika serikat tentunya adalah salah satu penjahat utama. Mereka yang menghargai proses demokrasi melihat bagaimana “persyaratan”-syarat-syarat yang diminta oleh para pemberi pinjaman internasional sebagai imbalan atas bantuan yang mereka berikan-merendahkan kekuasaan suatu bangsa.

Liberalisasi-pelepasan campur tangan pemerintah dalam pasar keuangan, pasar modal, dan hambatan perdagangan memiliki banyak dimensi. Saat ini, bahkan IMF mengakui bahwa ia telah mendorong agenda tersebut terlalu jauh sehingga liberalisasi modal dan pasar keuangan turut andil dalam menciptakan krisis keuangan global pada tahun 1990an dan dapat menimbulkan bencana terhadap beberapa negara berkembang.

Privatisasi, liberalisasi dan stabilitas makro seharusnya menciptakan iklim yang menarik investasi, termasuk dari luar negri. Investasi ini meningkatkan pertumbuhan. Namun demikian, ada juga sejumlah sisi buruknya. Ketika bisnis asing masuk, mereka sering menghancurkan pesaing-pesaing local, menghentikan cita-cita para pengusaha kecil yang ingin mengembangkan industri dalam negri. Ada banyak contoh mengenai hal ini. Pabrik-pabrik minuman ringan di seluruh dunia telah kalah bersaing dengan masuknya Coca-Cola dan pepsi dalam pasar dalam negri mereka. Pabrik es krim local menyadari bahwa mereka tidak dapat bersaing dengan produk es krim dari Unilever.

Dampak dari terjadinya perubahan yang terjadi pada masyarakat Indonesia ialah menjadi lebih konsumtif, perhatikan pada perkembangan produk hand phone yang baru orang Indonesia selalu berbodong-bondong untuk membeli hand phone terbaru. Hal tersebut terjadinya disorientasi terhadap barang yang akandibeli seharusnya membeli barang sesuai dengan kebutuhan bukan karena prestise, ingin dianggap paling modern dengan memakai hand phone terbaru. Akan tetapi fungsi yang sering dipakai pada hand phone yang dimiliki, paling sering adalah SMS dan menelphone, selebihnya jarang digunakan. Begitupun juga pada produk mobil terbaru, pasat asing membidik pasar yang ada di Indonesia bila terdapat produk baru dari suatu merek kendaraan, kalau di pasaran Indonesia laku maka dipasar Negara lainnpun akan majua, fenomena inipun dapat dilihat di jalan-jalan kota, taka sing jikalau menemukan merk kendaraan tebaru dan harganya pun diatas rata-rata. Kedua hal tersebut jelaslah bertolak belakang dengan keadaan bangsa yang masih terjebak dari hutang luar negri. Oleh karena itu bangsa indonesia akan terus menjadi pengguna dari pada memproduksi.

Dari sisi sosial, dapat kita lihat pada dewasa ini dengan kemajuan teknologi dan informasi. Munculnya majalah play boy edisi pertama dan kedua, walaupun banyak aksi protes dari kalangan organisasi Islam, akan tetapi tetap majalah play boy tersebut terbit untuk edisi yang kedua. Dekadensi moral terjadi antara nilai timur yang kita miliki menjadi memudar kearah budaya barat. Hal tersebut tidak terdapatnya filterisasi atas budaya asing terhadap budaya nasional. Dengan kemajuan teknologi setiap individu dapat dengan mudah mendapatkan informasi mengenai dunia luar, terutama barat. Sehingga generasi muda kehilangan pijakan atas budayanya sendiri.

Diantara modernisasi dan perubahan kebudayaan merupakan dua hal yang saling melengkapi, namun perlu adanya kejelasan arah yang akan digapai. Modernisasi bukan berarti kita harus mengikuti budaya barat (kebarat-baratan), akan tetapi bagaimana bangsa Indonesia mengikuti akan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang berkembang di barat, persoaalan budaya bangsa indonesia jelas memiliki ragam kebudayaan yang khas. Sehingga kemajuan yang diperoleh tidak meninggalkan khasanah jati diri bangsa. Bukan sebaliknya, kecenderungan sekarang orang dikatakan gaul atau modern adalah dengan memakai alat-alat komunikasi dan bergaul di dunia malah, atau malah yang lebih parah bahwa mengarti kan gaul atau modern ialah orang yang sukan memakai obat-obat terarang dan pergi ke tempat-tempat hiburan malam. Sek bebas dan mengindahkah pesan moral dari pernikahan dan lain sebagainya.

Gejolak sosial tersebut perlulah mendapatkan penanganan dari berbagai pihak,baik itu pemerintah mengadakan kerjasama pementasan antar kebudayaan bagi generasi muda, lembaga pendidikan dengan memberikan pendidikan mengenai perbandingan antar kebudayaan agara tersejadinya pemahaman yang utuh dari berbagai budaya terhadapsetia Maha siswa, orang tua memperhatikan perkembangan lingkungan tempat bergaul anak agar dapat diminimalisir jika terjadinya penyimpangan  prilaku budaya yang negatif, dan bahkan media agar manyaleksi terlebih dahulu apa yang akan ditanyangkan, misalnya: durasi waktu penayangan telenovela tidak terlalu mendominasi dan diganti oleh tayangan-tayangan mengenai penetahuan dan pengembangan daya kreativitas masyarakt. Karena media mampu merubah karakter kehidupan setiap individu karena dengan media orang mendapatkan berbagai masukan dari informasi yang ditayangkan atau diberitakan oleh setiap media. Setiap orang yang tidak mengikuti perkembangan  media maka secara otomatis akan terisolir dari perkembangan dan kemajuan peradaban (civilizations)

Ringkasan

–          Masyarakat yang statis ialah masyarakat yang sedikit atau lambat dalam melakukan perubahan. Masyarakat dinamis ialah masyarakat yang melakukan perubahan dengan cepat.

–          Gillin dan Gillin (1957: 279)  mengartikan perubahan sosial  sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komosisi penduduk, ideology maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat.

–          Selo Soemardjan mengartikan perubahan sosial ialah sebagai segala perubahan dalam lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola prilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

–          Etzioni-Halevy dan Etzioni (1973:177) mereka mengemukakan bahwa transisi perubahan dari suatu masyarakat tradisional kearah masyarakat yang modern. Dipengaruhi oleh revolusi demografi hal tersebut ditandai dengan menurunnya angka kematian, kelahiran, pengaruh keluarga.

–          Teori evolusi kuno memiliki ide bahwa suatu organisasi sosial yang primitif ialah suatu bentuk kekeuargaan matrilineal (garis keurunan Ibu). Bentuk ini menghasilkan kekeluargaan patrilineal dan patriaskhat (garis keturunan ayah) yang disebabkan oleh dominasi kaum laki-laki, (Marshall D, 1960:8).

–          Difusi ialah sebagai suatu proses menyebarkan ciri suatu penemuan kebudayaan (inovasi) dari satu masyarakat ke masyarakat yang lain, mencakup seluruh lapisan masyarakat.

–          Akulturasi ialah saling mempengaruhinya antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya, yang menghasilkan sebuah perubahan terhadap kebudayaan tersebut.

–          Faktor yang mendorong perubahan ialah; kontak dengan kebudayaan lain, Sistem pendidkan Formal yang maju, sikap menghormati hasil karya seseorang dan keinginan-keinginan untuk maju, toleransi terhadap suatu perbuatan-perbuatan yang menyimpang yang masih dapat di tolerir (bukan delik), sistem terbuka lapisan masyarakat, ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu, orientasi ke masa depan, dan nilai bahwa manusia harus senantiasa beikhtiar untuk memperbaiki hidupnya.

–          Faktor yang menghambat perubahan, Soekanto (2005: 329-330). Antara lain; kurangnya hubungan dengan masyarakat lain, perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat, sikap masyarakat yang sangat tradisional, adanya kepentingan-kepentingan yang telah tertanam dengan kuat atau vested interests, rasa takut akan terjadinya kegoahan pada integrasi kebudayaan, prasangka terhadap hal-hal baru atau asing atau sikap yang tertutup, hambatan-hambatan yang bersifat ideologis, adat atau kebiasaan, dan nilai bahwa hidup ini pada hakikatnya buruk dan tidak mungkin di perbaiki.

–          Dual societies, yang diungkapkan oleh J.H. Boeke (1980: 26-37) ia seorang ahli ekonomi Belanda mempertanyakan mengenai peran kapitalisme yang telah membuat tingkat ekonomi dan persatuan masyarakat Barat semakin meningkat. Namun hal tersebut berbanding terbalik ketika kapitalisme dating ke masyaakat Asia Tenggara, karena tingkat persatuan dan kondisi ekonomi masyarakat Asia Tenggara semakin menurun.

–          Involution ialah  tingkat kerumitan yang berlebihan dan semakin rinci yang menjadikan tiap orang tetap menerimabagian dari panen bertani walaupun bagian yang diperoleh dari waktu-kewaktu semakin mengecil.

Refleksi:

Apa yang melatarbelakangi suatu masyarakat untuk melakukan perubahan?

Bagaimana proses terjadinya perubahan? Dampak seperti apa yang diperoleh masyarakt jika melakukan perubahan?

Jika anda membaca materi diatas maka tidak akan mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan tersebut, apabila kurang dimengerti jangan malu untuk menanyakannya kepada guru!

Uji Kompetensi:

Motivasi diri.

–          Siapkan kertas selembar

–          mulailah menuliskan hal yang berubah dan tidak berubah dari diri kalian.

–          Tuliskan keuntungan dan kerugian dari perubahan yang dialami oleh diri kalian.

–          Berilah saran dari perubahan tersebut, dan harapan apa yang akan dicapai.

–          Tukarkar komentar kalian dengan orang lain, setelah saling menukar bacakan dihadapan kelas secara bergantian.

–          Hilangkan rasa malu demi perkembangan potensi diri, selamat mencoba.

Posted November 11, 2011 by beninugraha79

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: