PKn kelas XII   Leave a comment

MEMAHAMI LEMBAGA SOSIAL

Kompetensi Dasar:

  1. Siswamampu mendeskripsikan hakikat lembaga sosial
  2. Siswamampu memahami tipe-tipe lembaga sosial
  3. Siswamampu mendeskripsikan peran dan fungsi lembaga sosial
  4. Siswamampu menunjukkan lembaga-lembaga sosial

Standar Kompetensi:

Kemampuan mendeskripsikan makna lembaga sosial

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam mengistilahkan social institution, mengalami keberagaman dalam mengartikannya diantara para ahli sosioloi. Ada yang mengartikan sebagai lembaga sosial, pranata sosial, dan lembaga kemasyarakatan. Koentjaraningrat (1964: 113) mengatakan pranata sosial ialah suatu sistem tata kekuatan dan hubungan yang berpusat pada aktivitas-aktivitas untuk memenuhi kebutuhan kompleks khusus dalam kehidupan masyarkat. Lembaga sosial adalah suatu kumpulan norma-norma yang berada di seluruh lapisan masyarakat dan berguna untuk mengatur hubungan dan tata kelola dalam masyarakat yang terwujud dalam lembaga-lembaga sosial, seperti halnya lembaga sosial yang bergerak di bidang pendidikan dan teknologi: Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Institut Tenknologi Bandung, Undiversitas Pendidikan Indonsia, dan Universitas Gajah Mada. Tidak hanya dalam bidang pendidikan saja kita dapat melihat berbagai lembaga sosial, akan tetapi banyak lembaga sosial yang bergerak di bidang ekonomi, politik, hukum dan lain sebagainya.

Gambar Kampus

 

 

Menurut Soekanto (2005:199) bahwa lembaga masyarakat (lembaga sosial) yang bertujuan memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok manusia pada dasarnya mempunyai beberapa fungsi, yaitu:

1)        Memberikan pedoman pada anggota masyarakat, bagaimana mereka harus bertingkah laku atau bersikap didalam menghadapi masalah-masalah dalam masyarakat, terutama yang menyangkut kebutuhan-kebutuhan.

2)        Menjaga keutuhan masyarakat.

3)        Memberikan pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial. Ialah suatu sistem pengawasan masyarakat terhadap tingkah-laku anggota-anggotanya.

Mempelajari suatu masyarakat, sudah barang tentu seseorang harus mempelajari juga mengenai kebudayaan suatu masyarakat beserta dengan lembaga sosial yang berkembang dalam masyarakat tersebut.

 

  1. Menjelaskan hakikat lembaga sosial

Awal mula terciptanya sutu norma sosial yang berkembang dalam suatu masyarakat terjadi secara tidak sengaja, seiring dengan perjalanan waktu yang panjang norma tersebut dibentuk dengan sadar oleh para masyarakat, dan demi kemudahan mengatur masyarakat serta memiliki kekuatan hukum yang mengikat.

Gambar orang sedang bertransaksi

 

 

 

Cotoh: transaksi pinjam meminjam pada waktu dulu tidak dikenal dengan adanya istilah menggunakansuratperjanjian bahkan dibubuhkan materai seharga 6000, dulu seseorang mau meminjam uang ataupun barang hanya bermodalkan saling mengetahui antara satu dengan yang lain. Soekanto (2005: 200) untuk dapat membedakan kekuatan mengikat norma-norma yang berlaku dalam lingkungan sosial, secara sosiologis dikenal adanya empat pengertian yaitu:

1)      cara (usage)

2)      Kebiasaan (folkways)

3)      Tata kelakuan (mores), dan

4)      Adat-istiadat (custom).

Keempat pengertian tersebut merupakan norma-norma masyarakat yang memberikan petunjuk bagi setiap individu yang hidup dalam lingkungan sosial. Cara (usage),  norma ini memiliki kekuatan mengikat yang lebih lemah jika dibandingkan dengan kebiasaan (folkways), cara yang menunjuk pada suatu bentuk perbuatan, lebih menonjolkan hubungan antar individu dalam masyarakat, dan sanksi terhadap pelanggaran norma berupa celaan dari individu yang berinteraksi dengannya. Kebiasaan (folkways), memiliki kekuatan mengikat yang lebih besar dibandingkan pada cara (usage), lebih menunjukan pada perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama, lebih menonjolkan perbuatan yang dilakukan oleh sebagian bersar individu dalam masyarakat, dan sanksi terhadap pelanggaran ini berupa celaan dari setiap anggota masyarakat. Tata kelakuan (mores), kebiasaan yang merupakan tata perilaku dan juga sekaligus diterima sebagai norma pengatur yang mencerminkan sifat-sifat yang hidup dari kelompok manusia yang dilaksanakan sebagai alat pengawas, secara sadar maupun tidak sadar, yang dilakukan masyarakat terhadap anggotanya.

Adat istiadat (custom), tata kelakuan yang kekal dan mempunyai kekuatan hukum yang mengikat lebih besar terhadap anggota masyarakatnya. sehingga anggota masyarakat yang melangarnya akan menerima sanksi yang keras. Selain hal tersebut menurut Basrowi (2005: 97) norma juga dapat dibedakan menjadi seperti berikut ini:

1)    Norma yang mengatur pribadi manusia. Norma pribadi terdiri dari norma kepercayaan yang dimaksudkan agar manusia beriman dan norma kesusilaan yang bertujuan agar manusia mempunyai hati nurani yang bersih.

2)    Norma hubungan antar pribadi. Norma hubungan antarpribadi terdiri dari norma kesopanan dan norma hukum. Norma kesopanan dimaksudkan agar manusia bertingkah laku dengan baik dalam pergaulan di masyarakat, sedangkan norma hukum dimaksudkan untuk mencapai kedamaian hidup bersama dalam masyarakat, yaitu keserasian antara ketentraman dan ketertiban.

Syarat bahwa suatu norma diatas telah melembaga (institutionalized) menurut pendapat Soekanto (2005: 203) apabila:

1)      Diketahui.

2)      Dipahami atau dimengerti

3)      Ditaati, dan

4)      Dihargai

Proses pelembagaan tidak berhenti sampai disana, kondisi yang lebih tinggi dalam pelembagaan norma sosial tersebut adalah internalized, merupakan suatu tarap perkembangan dimana para anggota masyarakat dengan sendirinya ingin berprilaku sejalan dengan prilaku yang memang sebenarnya memenuhi kebutuhan masyarakat.

Setelah norma sosial menjadi suatu lembaga sosial, maka dengan sendirinya akan memiliki beberapa karakteristik. Gillin & Gillin mengungkapkan, bahwa lembaga sosial memiliki ciri-ciri seperti berikut:

1)        Merupakan suatu organisasi yang berisi pola-pola pemikiran dan pola-pola perilaku yang terwujud melalui aktivitas-aktivitas kemasyarakatan dan hasil-hasilnya. Lembaga kemasyarakatan dalam hal ini berisi berisi tata kelakuan, adat istiadat, kebiasaan, serta unsur-unsur kebudayaan yang secara langsung atau tidak tergabung dalam satu unit fungsioanal.

2)        Mempunyai tingkat kekekalan tertentu. Dalam hal ini sistem kepercayaan dan tindakan lain baru akan menjadi bagian lembaga kemasyarkatan setelah melewati waktu yang relatif lama.

3)        Mempunyai satu atau beberapa tujuan tertentu. Sebagai contoh, suatu lembaga persaingan bebas dalam kehidupan ekonomi yang bertujuan agar produksi berjalan secara efektif oleh karena para individu akan terpaut pada keuntungan yang akan diperolehnya kepada orang-orang yang mempunyai pengaruh serta mengetahui caranya.

4)        Mempunyai alat-alat perlengkapan yang digunakan untuk mencapai tujuan lembaga bersangkutan, misalnya peralatan, penggunaannya biasanya akan berlainan untuk masing-masing masyarakat.

5)        Mempunyai lambang-lambang yang berbeda, yang menggambarkan tujuan dan fungsi lembaga tersebut. Misalnya, sekolah-sekolah mempunyai lambang yang mempunyai ciri khas  sekolah tersebut.

6)        Mempunyai tradisi yang tertulis maupun tidak tertulis, yang merumuskan tujuannya, tata tertib yang berlaku (Soemardjan & Soemardi, 1974: 67).

  1. Mengklasifikasikan tipe-tipe lembaga sosial

Lembaga sosial dapat dikelompokkan dari pelbagai sudut pandang. Gillin & Gillin (Soemardjan dan Soemardi, 1964: 70) lembaga sosial dikelompokankan sebagai berikut:

1)      Creative institutions dan enacted instituions yang merupakan pengelompokan dari sudut perkembangan. Crestive institutions yang juga di sebut lembaga-lembaga paling primer, merupakan lembag-lembaga yang secara tak sengaja tumbuh dari adat-istiadat masyarakat. Contoh-nya adalah hak milik, perkawinan, agama, dan seterusnya.

Enacted institutions dengan sengaja dibentuk untuk memenuhi tujuan tertentu, misalnya lembaga utang-piutang, lembaga perdagangan dan lembaga-lembaga pendidikan, yang kesemuanya berakar pada kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat. Pengalaman melaksanakan kebiasaan-kebiasaan tersebut kemudian di sistematisasi dan diatur untuk kemudian dituangkan kedalam lembaga-lembaga yang disahkan oleh negara.

2)      Dari sudut sistem nilai-nilai yang diterima masyarakat, timbul pengelompokan atas Basic institutions dan Subsidiary institutions. Basic institutions yang dianggap sebagai lembaga kemasyarakatan yang sangat penting untuk  memelihara  dan mempertahankan tata-tertib dalam masyarakat. Contoh; sekolah-sekolah, negara yang dianggap sebagai Basic institutions pokok.

Subsidiary institutions yang dianggap kurang penting seperti misalnya kegiatan-kegiatan untuk rekreasi.

3)      Dari sudut penerimaan masyarakat dapat dibedakan approved atau social sanctioned-institutions dengan unsancioned institutions. Approved atau social sanctioned institutions, ialah lembaga-lembaga yang diterima masyarakat seperti misalnya sekolah, perusahaan dagang dan lain-lain. Unsanctioned institutions yang ditolak oleh masyarakat, walaupun masyarakat kadang-kadang tidak berhasil memberantasnya. Contoh; kelompok penjahat, pemeras, pencoleng dan sebagainya.

4)      Pembedaan antara general institutions dengan restriced institutions, hal tersebut timbul apabila pengelompokan tersebut didasarkan pada faktor penyebarannya. Contoh: Agama merupakan suatu general institutions, karena dikenal oleh hampis seluruh masyarakat dunia. Sedangkan agama-agama seperti Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha dan lain-lain, merupakan suatu restricted institutions, oleh karena dianut oleh masyarakat-masyarakat tertentu saja di dunia ini.

5)      Ditinjau dari sudut fungsinya terdapat perbedaan antara operaive institutions dan regulative institutions. Operative institutions berfungsi sebagai lembaga yang menghimpun pola-pola atau tata-cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan lembaga yang bersangkutan, contoh: lembaga industrialisasi. Regulative institutions, bertujuan untuk mengawasi adat-istiadat atau tata-tata kelakuan yang tidak menjadi bagian mutlak lembaga itu sendiri, contoh; lembaga-lembaga hukum seperti kejaksaan, pengadilan dan lain sebagainya.

Dengan terdapatnya berbagai lembaga sosial yang ada di di dalam masyarakat, akan menghasilkan suatu lembaga sosial yang mengatur antara lembaga-lembaga kemasyarakatan, yang dinamakan institutional configuration, yang biasanya digunakan dalam masyarakat yang masih tradisional dengan sifat homogen dan statis. Pada masyarakat yang totaliter terdapat lembaga yang mengatur hubungan antar lembaga Contoh; Negara yang membawahi lembaga-lembaga lain baik dari level keluarga, sekolah, perusahaan, hak milik dan lain-lain.

Terdapatnya berbagai lembaga sosial yang terdapat didalam masyarakat ialah bertujuan agar maasyarakat menjalankan aktivitas berjalan dengan lancar dan sesuati dengan tat nilai yang telah ada dalam suatu masyarakat. Sepserti halnya ketrkaitan antara lembaga keluarga dengan lembaga pemerintah, pemerintah mengatur pembangunan untuk keberlangsungan pendidikan untuk menciptakan warga negara yang mampu membaca, menulis dan berhitung. Warga memiliki kewajiban untuk membayar pajak terhadap pemerintah, agar alur keuangan berjalan dengan baik tanpa adanya penyimpangan diberdayakanlah lembaga ekonomi sepserti halnya perpajakan. Jika terdapat warga negara yang tidaka membayar kewajimannya untuk membayar pajak terhadap pemerintah baik itu pajak penghasilan ataupun pajak bumi dan bangunan, maka yang berperan adalah lembaga yang bertugas untuk menegakkan aturan agar masyarakat mentaatinya sepertihalnya lembaga kepolisian dan pengadilan.

Keterkaitan antara lembaga politik seperti halnya partai politik dengan masyarakat, karena partai politik memiliki kewajiban untuk mampu mengusung calon pemimpin yang mampu memahami kepentingan masyarakat, karena syarat setiap anggota masyarakat agar dapat menjadi pemimpin baik di pusat ataupun di daerah harus melalui partai politik.

Terciptanya berbagai lembaga tersebut agar terjadinya pola hubungan yang saling menguntungkan antara yang satu dengan yang lainnya. Sehingga terwujud keinginan bersama.

 

 

Addendum:

Cara mempelajari lembaga sosial dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan secara historis untuk meneliti sejarah perkembangan suatu lembaga, komparatif untuk membandingkan antara lembaga sosial, dan fungsional mempelajari hubungan kerjasama antara satu lembaga dengan lembaga lain. Basrowi dalam buku pengantar sosiologi (2005: 101).

 

 

 

 

 

 

 

  1. Mendeskripsikan peran dan fungsi lembaga sosial
  1. Gambar keluarga

    Lembaga Keluarga

 

 

Keluarga dibagi kedalam dua sistem antara sistem konsanguinal dan keluarga bersistem konjugal, Clayton (1974: 49). Sistem konsanguinal menekankan pada pentingnya ikatan darah, contohnya, hubungan antara seorang anak dengan orang tuanya. Ikatan seorang anak dengan orang tuanya cenderung dianggap lebih penting dibandingkan dengan hubungan suami istri. Seperti keluarga Jepang yang mana jika terjadinya perselisihan antara orang tua dengan istrinya, maka si anak akan memihak pada orang tuanya. Sistim konjugal, menekankan pada pentingnya hubungan pekawinan antara suami istri dari pada ikatan dengan orang tua.

Pembagian tipe keluarga yang lainnya menurut Sunaarto (2004: 6) ialah keluarga batih (nuclear family) dan keluarga luas (extended family). Keluarga baith merupakan satuan keluarga terkecil yang terdiri atas ayah, ibu dan anak serta tidak mengandung hubungan fungsional dengan kerabat dari keluarga orientasi salah satu pihak. Keluarga luas terdiri-dari keluarga batih. Seperti halnya joint family, yang terdiri atas beberapa orang laki-laki kakak beradik beserta anak-anak mereka, dan sarudara kandung perempuan mereka yang belum menikah, laki-laki tertua diantara kakak-beradik menjadi kepala keluarga maakala ayah mereka sudah meninggal dunia. Clayton (1979: 63) keluarga seperti ini banyak dijumpai di Pakistan dan India.

Fungsi keluarga di antaranya, fungsi pengaturan seks, reproduksi, sosialisasi, afeksi, definisi status, perlindungan dan ekonomi, Horton dan Hunt (1984: 238-242).

Fungsi pengaturan seks memiliki alasan bahwa tidak ada masyarakat yang memperoleh hubungan seks sebebas-bebasnya antara siapa saja dalam masyarakat, sehingga diwadahi dalam keluarga.

Fungsi reproduksi, berupa pengembangan keturunan pun selalu dibatasi dengan aturan menempatkan kegiatan ini dalam keluarga.

Fungsi mensosialisikan, bagi anggota baru masyarakat sehingga dapat memerankan seperti apa yang diharapkan oleh dirinya.

Fungsi afeksi, keluarga memberian cinta dan kasihnya kepada seorang anak, karena seotang anak yang tidak memperoleh kebahagiaan cinta dan kasih dari orang tuanya memiliki kecenderungan untuk berprilaku menyimpang, menderita gangguan kesehatan, dan akhirnya meninggal dunia.

Fungsi definisi status, seperti halnya status yang berkaitan dengan jenis kelamin, urutan kelahiran dan hubungan kekerabatan sampai pada status kelas sosial orang tuanya.

Fungsi perlindungan, baik perlindungan yang bersifat fisik maupun kejiwaan. Fungsi ekonomi, sepetihalnya sebuah keluarga membuat suatu kegiatan industri rumah membuat kerajinan tas, maka secara otomatis keluarga tersebut menjalankan mekanisme produksi, distribusi, dan konsumsi.

Gambar sekolah

Dalam suatu keluargapun menurut Giddens terdapat fungsi yang menyimpang dan merugikan. Seperti halnya kekerasan dalam rumah tangga; penganiayaan suami terhadap istri, penganiayaan orang tua terhadap anaknya, dan perkosaan orang tua terhadap anak.

  1. Lembaga Pendidikan

 

Pendidikan yang berkembang dalam masyarakat terdiri dari pendidikan formal dimulai dari pendidikan usia dini, sekolah dasar, sekolah lanjutan tingkat pertama, sekolah menengah atas sampai dengan perguruan tinggi. Sementra pendidkan nonformal sepertihalnya; lembaga-lembaga kursus, dan pendidikan informal yang berlangsung di rumah dan mediamassa.

Paraahli sosiologi pendidikan membagi pokok sosiologi pendidikan kedalam tiga jenjang yakni makro, meso, dan mikro. Makrososiologi pendidikan mempelajari hubungan antara pendidikan dan institusi lain dalam masyarakat; mesososiologi pendidikan mempelajari hubungan dalam suatu organisasi pendidikan; dan mikrososiologi pendidikan membahas interaksi sosial yang berlangsung dalam istitusi pendidikan, Sunarto (2004: 65).

Fungsi dari pendidikan dibagi kedalam fungsi manifes dan fungsi laten. Menurut Horton dan Hunt (1984) fungsi manifestasi untuk mempersiapkan anggota masyarakat untuk mencari nafkah, mengembangkan bakat perseorangan demi kepuasan pribadi maupun bagi kepentingan masyarakat, melestarikan kebudayaan, menanamkan keterampilan yang perlu bagi partisipasi demokrasi dan lain sebagainya.

Fungsi manifes ialah fungsi yang tercantum dalam kurikulum sekolah. Dan kurikulum pun dilengkapi dengan kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) dimana penilaian karakteristik Maha siswa (entry behaviour) di luar kegiatan belajar mengajar oleh setiap guru.

Selain itu pendidikan formal berfungsi untuk mempertahankan sistem stratifikasi yang telah ada dengan jalan mensosialisasikan anak untuk dapat menerima sistem perbedaan status sosial, ekonomi dan lain sebagainya.

  1. Gambar lembaga MUI

    Lembaga Agama.

 

Terdapat beberapa agama yang terdapat di negara kita RepublikIndonesiadan setiap agama memiliki lembaga keagamaan masing-masing seperti Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu dan Budha. Pandangan Durheim mengartikan agama ialah sebagai suatu sistem terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal yang suci, dan bahwa kepercayaan dan praktik tersebut mempersatukan orang-oarang yang beriman kedalam satu komunitas moral yang dinamakan umat. Semua kepercayaan agama mengenai pembagian semua benda yang terdapat di bumi ini, baik yang berwujud nyata maupun berwujud ideal, kedalam dua kelompok yang saling bertentangan yang bersifat profan dan suci, Durheim (1966: 52).

Selain agama terdapat pula sekelompok orang yang menghimpun kepercayaan dan ritual yang dinamakan civil religion (Kornblum, 1988: 500) ialah kepercayaan dan ritual di luar agama yang dijumpai pada institusi politik seperti pemujaan pimpinan, bendera negara dan lagu kebangsaan dan upacara-upacara peringatan kemerdekaan, hari Kartini, hari Pahlawan dan lain-lain.

Fungsi agama menurut Hortond dan Hunt (1984: 271-272) dibedakan kedalam dua kategori yakni fungsi manifes dan fungsi laten. Fungsi manifes agama berkaitan dengan dengan segi doktrin, ritual, dan aturan perilaku alam agama. Namun yang tidak kala penting adalah fungsi laten agama.

Perubahan dalam masyarakat yang menuju kearah sekulerisasi (menjauhkan dari nilai agama), dimana setiap individu lebih mementingkan kebutuhan dunia dibandingkan dengan kebutuhan rohani, Giddens (1989: 451) didefinisikan sebagai proses yang mana nilai-nilai agama kehilangan pengaruhnya terhadap berbagai dimensi kehidupan. Kondisi seperti ini dapat memicu reaksi dari kalangan agama untuk dapat melakukan perlawanan agar dapat mengimbangi proses sekulerisasi.

Contoh revolusi iran yang dipimpin oleh Ayatollah Khomaeni, merupakan reaksi terhadap perubahan cepat yang terjadi dalam masyarakat. Di masyarakat Indonesia pun tidak sedikit orang yang lebih mementingkan kepentingan materi dibandingkan dengan kepentingan rohani, dan terdapat pula orang yang beragama mengimbangi akan perubahan ini dengan meningkatkan kegiatan-kegiatan keagamaan.

  1. Gambar Perusahaan

    Lembaga Ekonomi

 

Timbulnya perhatian para ahli sosiologi lebih disebabkan karena terjadinya pemudarnya dari nilai-nilai feodalisme dan munculnya sistem industrialisasi serta kapitalisme di Eropa Barat. Smelser (1965) sosiologi ekonomi merupakan kajian sosiologi terhadap kompleksnya kegiatan yang melibatkan produksi, distribusi, pertukaran dan konsumsi barang dan jasa yang bersifat langka.

Pergeseran nilai terlihat dari sistem masyarakat yang semula memiliki sifat homogen menjadi suatu masyarakat yang heterogen. Melalui proses tersebut masyarakatpun mengalami pergeseran dari semula dengan tipe militeristik menjadi masyarakat industri yang terkumpul oleh suatu hubunga kerjasama secara sukarela berdasarkan kontrak.

Contoh: para pegawai perusahan yang bekerja sesuai dengan kontrak kerja yang telah disepakati secara bersama-sama antara perusahaan dan insividu. Ketika waktu kontrak habis maka segala kewajiban yang melekat sebagi pekerja otomatis hilang.

  1. Gambar Beberapa Parpol

    Lembaga Politik

 

Sosiologi tidak bisa mengabaikan institusi politik. Kornblum (1989)  mengartikan institusi politik sebagai suatu perangkat aturan dan status yang menkhususkan diri pada keberlangsungan kekuasaan dan wewenang. Politik memiliki makna bahwa siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana dalam konterks kekuasaan negara ataupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Proses perebutan kekuasaan dan dengan menggunakan cara yang berbeda-beda akan mengarah pada konflik yang akan terjadi di masyarakat, baik konflik secara horizontal antara kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat atau konflik vertikal antara masyarakat dengan aparat pemerintah. Persaingan kekuasaan juga akan menghasilkan suatu kesepakatan (konsensus) bersama, agar persaingan tersebut tidak semakin mengarah pada kekacauan (chaos).

Cotoh: persaingan antara partai politik untuk memenangkan masing-masing calon pada proses pemilihan kepala daerah. Dalam proses pemilihan pasti akan terdapat pasangan calon yang kalah dan pasangan calon yang menang. Kehawatiran yang timbul adalah pada pasangan calon yang kalah dan tidak mau menerima kekalahannya serta pemilihan jalan penyelesaian cenderung pada konflik antar pendukung sehingga merugikan masyarakat banyak. Seperti kasus pemilihan kepala daerah di Tuban.

 

 

 

 

 

 

Ringkasan

–          Koentjaraningrat (1964: 113) mengatakan pranata sosial ialah suatu sistem tata kekuatan dan hubungan yang berpusat pada aktivitas-aktivitas untuk memenuhi kebutuhan kompleks khusus dalam kehidupan masyarkat.

–          Lembaga sosial adalah suatu kumpulan norma-norma yang berada di seluruh lapisan masyarakat dan berguna untuk mengatur hubungan dan tata kelola dalam masyarakat yang terwujud dalam lembaga-lembaga sosial.

–          Syarat bahwa suatu norma diatas telah melembaga (institutionalized) menurut pendapat Soekanto (2005: 203) apabila: diketahui, dipahami atau dimengerti, ditaati, dan dihargai.

–          Gillin & Gillin mengungkapkan, bahwa lembaga sosial memiliki ciri-ciri seperti berikut: Merupakan suatu organisasi yang berisi pola-pola pemikiran dan pola-pola perilaku yang terwujud melalui aktivitas-aktivitas kemasyarakatan dan hasil-hasilnya, mempunyai tingkat kekekalan tertentu, mempunyai satu atau beberapa tujuan tertentu, mempunyai alat-alat perlengkapan yang digunakan untuk mencapai tujuan lembaga bersangkutan, mempunyai lambang-lambang yang berbeda, mempunyai tradisi yang tertulis maupun tidak tertulis.

–          Lembaga sosial dikelompokankan sebagai berikut: Creative institutions dan enacted instituions yang merupakan pengelompokan dari sudut perkembangan, dari sudut sistem nilai-nilai yang diterima masyarakat, timbul pengelompokan atas Basic institutions dan Subsidiary institutions, dari sudut penerimaan masyarakat dapat dibedakan approved atau social sanctioned-institutions dengan unsancioned institutions. Approved atau social sanctioned institutions, pembedaan antara general institutions dengan restriced institutions, hal tersebut timbul apabila pengelompokan tersebut didasarkan pada faktor penyebarannya, ditinjau dari sudut fungsinya terdapat perbedaan antara operaive institutions dan regulative institutions.

–          Fungsi lembaga keluarga di antaranya, fungsi pengaturan seks, reproduksi, sosialisasi, afeksi, definisi status, perlindungan dan ekonomi.

–          Fungsi lembaga pendidikan dibagi kedalam fungsi manifes dan fungsi laten.

–          Fungsi manifes lembaga agama berkaitan dengan dengan segi doktrin, ritual, dan aturan perilaku alam agama. Namun yang tidak kala penting adalah fungsi laten agama.

–          Fungsi lembaga ekonomi terpusat pada kegiatan yang melibatkan produksi, distribusi, pertukaran dan konsumsi barang dan jasa yang bersifat langka.

–          Fungsi lembaga politik sebagai suatu perangkat aturan dan status yang menkhususkan diri pada keberlangsungan kekuasaan dan wewenang. Politik memiliki makna bahwa siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana dalam konterks kekuasaan negara ataupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Posted November 11, 2011 by beninugraha79

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: